Demi Iphone
Sialan..
Kini, Jendral berkali-kali menggerakkan kaki kirinya, menekan hujung kakinya di lantai dah membiarkan tumit kakinya bergerak pantas ke atas dan ke bawah. Demi Tuhan, setelah membaca tantangan konyol dari Cakrawala —sahabatnya yang kaya raya itu barusan— membuatkan degupan jantungnya berdetak tak karuan. Nadarga yang kini sedang mendudukkan diri di hadapannya, yakni entitas itu sedang fokus dengan meeting online yang dia katakan. Mereka berdua masih di meja makan, soalnya cuman disini tempat yang lebih nyaman.
Lagipula unit apartment yang Nadarga tinggal ini ga ada pemisahnya. Masuk aja udah langsung ketemu kulkas di samping. Ada kompor listrik dan didepannya meja makan. Jauhan diri dari meja makan ada sofa yang ukurannya lumayan gede dan televisi yang tergantung rapih.
Jendral juga sedang dengan laptopnya. Buat pertemuan pertama ini, Nadarga hanya memberi topik debat yang berkemungkinan besar akan berlaku pada hari kejadian nanti. Sekaligus dia harus memutar video debat internasional yang telah dimenangkan Nadarga di Washington dua tahun yang lalu. Bodohnya, Jendral hanya fokus pada Nadarga selama di dalam video itu, bagaimana pemuda itu berkali-kali meraup surai legamnya kebelakang sambil memegang pensil dan sebelah tangannya memegang kertas.
Kedua keningnya menekuk, wajahnya tampak fokus dan lebih serius disitu, Jendral meneguk ludahnya sendiri. Nadarga di dalam ini terlihat benar-benar seperti bukan Nadarga di hadapannya sekarang. Bagaimana intonasi suaranya lantang membalas dan memutar semula fakta yang telah di lontarkan oleh pihak lawannya.
Kali ini sepasang netra nya mencuri-curi lihat ke arah Nadarga yang sedang memakai headset, dia fokus melihat ke arah skrin laptopnya. Sesekali merespons pertanyaan dosennya dengan baik. Bener kata Jiandra, Nadarga ini anaknya pinter banget, bodohnya Jendral baru menyadari itu membuatkan dirinya merasa kecil disampingnya sekarang.
“Kenapa?” Jendral yang tidak sadar ngelamun memandang ke arah laptop Nadarga barusan langsung membawa sepasang maniknya melihat ke arah pemuda Leo itu. Nadarga menarik sebelah headset nya, memandang wajah Jendral lama menantikan jawaban daripada belahan bibir pemuda itu. Kemudian, Jendral menggeleng pelan, “Bosen” Jawabnya hanya dengan menggerakkan bibir. Dia tau Nadarga masih di dalam online meeting nya.
Nadarga tersenyum nipis. Jendral pula terpana buat keberapa kali nya buat hari ini. “Sebentar, habis ini kita makan siang bareng, ya?” Nadarga berujar pelan. Jam di skrin laptopnya di lihat sebentar, “Lagi setengah jam” Sambungnya lagi lalu kembali fokus pada kelasnya. Jendral menghela napasnya pelan, video yang masih berputar pada laptop nya di jeda. Lagipula sudah dua kali dia memutar ulang video itu.
Earphone nya di buka. Sepasang netranya meliar memandang setiap sudut minim rumah Nadarga dengan teliti. Setiap rumahnya lebih dominan dengan warna putih. Kini atensi nya pada Nadarga kembali, bagaimana surai pirang itu sudah tidak rapih lagi seperti tadi. Beracakan naik ke atas karena ulah headset yang dipakenya.
Akhirnya setelah setengah jam menunggu, Jendral mendengar Nadarga mengucapkan terima kasih sebelum laptopnya di tutup. Nadarga berdiri dari duduknya, membereskan helaian kertas yang sempat dicatatnya barusan. Kemudian laptopnya dimasukin ke dalam tas. Begitu juga Jendral, dia melakukan hal yang sama.
“Gimana? Udah ngerti?” Nadarga melihat ke arah sosok pemuda di hadapannya, kemudian yang lebih muda mengangguk. “Udah, baru pertama kali liat gimana acara lomba debat berlangsung walaupun di dalam rekaman video doang. Keren banget ya, kok gua mendadak insecure?” Iya, tidak lupa juga bagaimana Jendral yang masih tak habis mengutuk dirinya sendiri yang memilih ikutan lomba debat untuk lebih dekat dengan Nadarga.
Tapi jika dipikir-pikir, dia tak akan bisa sampai ke sini, ke dalam rumahnya Nadarga jika bukan karena lomba debat.
“Gapapa, nanti pas luang bisa ketemuan lagi buat bahas. Nanti gua jelasin lagi di chat, atau sesekali bisa video call buat soal jawab beberapa hal yang lo ga ngerti. Soalnya disuruh sama bokap lo, that means he put high expectations on you. Gua bakal bantu sehabis yang bisa.”
Pemuda Leo itu berganjak pergi dari situ dan masuk ke kamarnya untuk menaroh barangnya disana. Kemudian, dia keluar lalu menyisir rambut nya kebelakang dengan jarinya, menarik lengan baju yang dipakenya sehingga ke paras siku, menampakkan urat-urat bahkan otot tangannya yang menonjol.
“Lo ngegame, atau ngapain dulu sana. Gua mau masak buat makan siang bentar.”
“Lo bisa masak?”
Nadarga terkekeh pelan mendengar pertanyaan Jendral barusan. Dia mendekati wastafel, mencuci tangan sebelum membuka pintu kulkasnya.
“Iyalah, terus gimana caranya gua bisa tinggal sendirian disini.”
Daripada menghabiskan waktu dengan permainan videonya, Jendral memilih untuk berjalan mendekati Nadarga yang sedang menjongkok mengeluarkan beberapa bahan masakan di dalam kulkas. Pemuda itu melihat ke atas apabila sadar Jendral berdiri di sampingnya, bersandar pada pinggiran kompor listrik itu.
“Kenapa?” Nadarga menaikkan sebelah alisnya, hanya fokus mengeluarkan bahan sehingga pergerakannya terhenti mendengar kata-kata yang dilontarkan Jendral padanya.
“Engga. Liatin lo make baju yang ada lehernya itu keinget sama diri gua sendiri. Kalau habis spending a whole night with someone, besok nya malah ada kelas, gua pasti make yang kayak gituan.”
Nadarga sempet menggelengkan kepalanya pelan sebelum berdiri. Menutup pintu kulkas itu kembali dan menyusun semua sayuran dan bahan lainnya di sebelah wastafel. Dia terkekeh pelan, kedua tangannya diletakkan pada hujung wastafel itu.
“Terus, lo mikirnya semalem gua tidur sama orang tuh?” Nadarga melihat lurus ke arah dinding putih di hadapannya. Reaksi wajahnya berganti datar. Ga heran pertanyaan itu keluar daripada Jendral, lagipula hal ini sudah menyebar sehingga ke base kampus.
“Haha, gua penasaran aja sih. Katanya cowok, ya?” Jendral memeluk tubuhnya sendiri. Memandang punggung Nadarga. Sebenarnya Jendral sendiri tak menyangka jika tubuh Nadarga itu segede ini. Bahkan lebih gede darinya yang bisa terbilang kurus.
Kini Nadarga memusingkan tubuhnya, bersandar pada samping wastafel melihat lekat ke arah Jendral yang juga memandang ke arahnya. Mata mereka bertaut lama, tak ada tanda tanda bahwa salah satu daripada mereka ingin melarikan pandangan.
Lalu Nadarga menarik sendiri bahan kain yang menutupi lehernya ke bawah. Menampakkan sebahagian lehernya yang ada kesan merah disitu. Jendral menelan ludahnya bersusah payah. Baru dibuka sedikit udah kelihatan segitunya.
“Lo penasaran, nih? Ya udah.”
Tidak diduga sama sekali bahwa Nadarga benar-benar membuka turtleneck hitam yang dipakenya. Menunjukkan tubuhnya, bahkan lengan ototnya yang gede, membuatkan sepasang mata sipit Jendral terbuka luas. Bagaimana dada pemuda itu benar benar banyak kesan cakaran, lehernya penuh kesan merah.
Nadarga melemparkan baju nya ke atas meja yang mereka dudukin tadi. Kedua sudut bibirnya dinaikkan membentuk sebuah senyuman, namun kali ini bukan sebuah senyuman hangat, melainkan sebuah seringai halus. Pemuda Leo itu mendekat, namun Jendral tetap di posisinya, sehingga mereka berdiri berhadapan sekarang.
“Di twitter, bahkan semua orang ngira kalau gua sama Jeff cuman making out. Lo mau tau ga, sebenarnya kita ngapain?” Wajahnya didekatkan, hanya menyisakan jarak yang tipis antara keduanya. ”We having sex, I make him spread his damn leg for me.”
Setelah mengucapkan itu, Nadarga menjauhkan tubuhnya, membelakangi Jendral karena ingin melanjutkan kegiatannya untuk mencuci sayuran di wastafel. Jendral pula melihat punggung tubuhnya yang mempunyai banyak kesan cakaran melintang disitu. He's really the type who likes to play rough, huh?
“Jadi, sama cewek bisa, sama cowok juga lo bisa nih?” Pertanyaan Jendral barusan membuatkan Nadarga tertawa, dia mengadah ke atas. Kemudian memusingkan tubuhnya sedikit melihat ke arah Jendral yang masih melihat ke arahnya.
“Menurut lo?”
“Kiss me, then.”
Nadarga tak salah dengar, kan?
“Come again?”
“Kiss me. Kalau lo bisa having sex sesama cowok. Masa sekedar ciuman aja ga bisa? Sebenarnya gua kurang percaya sih, gimana bisa lo bikin bang Jeff di pihak menerima? We all know, dia itu ceweknya banyak, gonta ganti mulu kayak ganti baju.”
He.. broke the rules again..