Demi Iphone II

Setelah mendengar kata-kata yang diujarkan pemuda yang lebih mudanya barusan membuatkan Nadarga terkekeh pelan. Dia menaikkan sebelah alisnya ke atas.

“Kenapa gua harus ngelakuin itu?”

Jendral memandang lama wajah Nadarga yang menikam lurus ke arahnya. Suasanya menjadi sedikit tegang, hawa yang awalnya merasa dingin tadi tiba-tiba menjadi panas kembali.

Perlahan-lahan wajah Jendral berubah warna. Wajahnya memerah, dia langsung membuang pandangannya ke tempat lain. Jantungnya semakin berdetak tak karuan. Sama ada dia takut, cemas, atau malu.

Dia sendiri bingung dengan dirinya sendiri.

“Nyesel banget gua” Monolognya sendiri sambil menggertak giginya. Jendral sengaja terbatuk pelan, menghilangkan suasana canggung antara mereka berdua.

“Gua penasaran aja sebenarnya, cuman mau tau reaksi lo. Gua ga nyangka kalau lo beneran kepancing sama kata-kata gua.” Jendral tertawa pelan, namun Nadarga tetap dengan reaksi datarnya membuatkan senyumannya mati serta-merta.

“Kenapa gua yang harus ngelakuin itu duluan? Why should I kiss you first when you’re the one who want me?” Sepasang netra mereka bertatapan lama, kemudian Jendral menelan liurnya bersusah payah.

God, have mercy..

“Come here. Kenapa liatin gua segitunya?” Bagai terhipnotis buat kesekian kalinya. Jendral maju mendekat, tidak lupa ponselnya yang sedari tadi menyala dibalik tas laptopnya merekam perilakunya.

Dia ga boleh gagal.

Jarak keduanya semakin menipis. Dengan pergerakan yang sedikit canggung, Jendral meletakkan tangan kanannya pada pinggang Nadarga, manakala tangan kirinya menyentuh pipi pemuda itu.

“Lo cantik banget” Bisiknya pelan pada Nadarga. Kemudian, Nadarga memegang pergelangan tangan Jendral yang menyentuh wajahnya, ditahan, kemudian telapak tangan Jendral dikecup pelan.

“The mole under your eye looks beautiful”

Ujar pemuda berkelahiran Agustus itu lalu memejamkan kedua matanya ketika wajah Jendral mendekat. Benar, rasa hangat menjalar pada sekujur tubuhnya ketika bibir mereka menyatu.

Jendral turut menutup kedua netranya ketika Nadarga membalas ciumannya. Both are the good kisser, keduanya kelihatan lihai dan berpengalaman ketika melakukannya.

Saling beradu lidah, dan sama-sama bisa mengatur napas. Jendral refleks membuka kedua matanya apabila lidah Nadarga hampir menyentuh hujung isi mulutnya. Nadarga bukan sekedar menciumnya, tapi benar benar mengabsen seisi mulut Jendral dengan lidahnya.

Sama sama saling tak mahu mengalah, Nadarga membawa tangannya menyentuh belakang tengkuk Jendral, menekannya lebih dalam agar dapat memperdalam ciuman mereka.

Tangan Jendral yang memegang pinggang Nadarga mulai naik meremat bahunya, dia mulai kehabisan napas, saliva tak berhenti mengalir melalui dagunya. Nadarga malah semakin gencar menciumnya, sempat menggigit hujung lidahnya membuatkan Jendral terpekik pelan sehingga ciuman mereka terputus.

Jendral mengundur beberapa langkah, bahagian mulut dan dahunya di kesat dengan bajunya. Napasnya terburu, dia menjelirkan lidahnya, menyentuh hujungya pada jarinya, dan benar ada darah disana.

“Shit”

Jendral melihat ke arah Nadarga yang juga barusan mengesat bibir dengan lengannya sendiri. Ada kesan luka pada bibirnya. Jendral yang mengigitnya barusan di sela ciuman mereka yang mulai mengganas.

Nadarga tersenyum lebar, wajahnya menunjukkan reaksi kaget. Dia juga beneran tak menyangka bahwa Jendral juga bisa dalam perihal ini.

“Woah, you’re such a good kisser”

Jendral mengatur napasnya. “Jadi, sebelumnya lo ngeremehin gua ceritanya?” Nadarga hanya tertawa pelan sebagai jawaban.

Finally. He made it.

Dan sialnya dia malah candu.