First Met

Saat matahari mulai terbenam, langit yang tadinya biru berubah menjadi rona jingga yang hangat. Angin sepoi-sepoi membawa suara gemerisik dedaunan kering di sepanjang jalan. Akhirnya, trotoar yang kering disegarkan dengan sentuhan tetesan air hujan yang perlahan mulai deras.

Melvin diliputi rasa frustrasi dan mulai melontarkan kata-kata kasar saat melihat tetesan air hujan jatuh di atas kanvas lukisannya yang belum kering. Tidak peduli jika nanti alat melukisnya berantakan. Dia memasukkan semuanya dengan pantas lalu dengan segera mencari perlindungan di bawah pohon terdekat.

Melvin merasa kecewa melihat beberapa warna di kanvasnya telah memudar akibat terkena air hujan. Dia mendengus kesal. Saat dia melihat ke jalanan yang basah kuyup oleh hujan, dia merasakan angin bertiup dan hujan menerpa wajahnya. Bibirnya cemberut karena merasa jengkel. Melvin mengeluarkan ponselnya dan memeriksa aplikasi ramalan cuaca.

“Yah, hari ini seharusnya ga hujan, tapi kenapa sekarang malah deres banget, sih?” Kapita, yang juga berlindung di sebelahnya, diam-diam menjawab keluhan frustrasinya itu barusan. Melvin menyadari orang itu sedang berbicara dengannya secara refleks memutar kepalanya sedikit.

“Namanya juga ramalan. Bahkan kemarin tuh seharusnya hujan seharian. Tapi malah panas terus, kan? Mana sampe 34 derajat pula.” Pemuda itu berujar tanpa melihat kearahnya karena dia sibuk menghalangi tetesan air hujan yang mengenai wajahnya. Angin begitu kencang bahkan Melvin harus menggunakan kanvasnya yang berantakan untuk memblokir bagian tubuhnya.

Ketika mata mereka bertemu, Melvin dengan cepat memalingkan muka, karena dirinya merasa malu karena sudah mengoceh gajelas dan wajahnya juga mulai memerah. Melvin baru menyadari bahwa pemuda di sebelahnya adalah sumber dari aroma mint citrus yang dia cium sebelumnya. Bagaimana dia bisa tidak menyadari kehadiran pemuda itu?

Perhatian pemuda itu tertuju pada kanvas nya yang berukuran sederhana pada tangannya, menyebabkan Melvin merasa malu dan dengan cepat mengarahkan lukisan itu ke arahnya.

“Bagus banget lukisannya”

Mendengar itu, Melvin langsung terbatuk pelan. Dia melihat hasil lukisannya dan juga pria itu silih berganti. Pria itu masih memuji, bahkan mengagumi lukisannya yang sudah rusak itu. Melvin kan jadi nethink. Masa dia sedang diledekin? Meskipun ekspresinya serius, Melvin tidak yakin.

“Haha, ini malah sudah hancur. Warnanya udah luntur gini kamu bilang bagus. Makasih loh, Mas. Walaupun saya ngerasa kayak lagi diledekin.” Melvin tertawa geli melihat bagaimana bisa seseorang memuji hasil lukisannya yang sekarang ini?

“Iya, saya tau ini udah luntur. Tapi kombinasi warnnanya bagus kok. Gambarnya kayak ngasih arti, since you painted the garden, the sky, the sun over there, seems like you really want a peaceful life. Terus ini, the water drop from the sky is really like a tear. Your sadness tears, yang ngancurin mimpi kamu makanya gambarnya berantakan... oh maaf, saya malah berlebihan hahah..”

Kedua netranya membulat. Pemuda bertubuh tinggi itu memegang kanvasnya dengan pandangan teduh. Bulu matanya panjang cantik, hidung nya mancung, struktur wajahnya sempurna.

Terlalu sempurna.

“Daripada di buang, mending saya yang beli aja” Begitu dia berbicara, tatapan mereka terkunci bersama. Melvin merasakan gejolak campuran emosi pada dirinya, menyebabkan jantungnya berdebar kencang dan tubuhnya menjadi dingin. Ada lonjakan adrenalin yang tak dapat dijelaskan mengalir melalui dirinya, membuatnya merasa senang sekaligus takut.

Melvin mengambil kembali kanvasnya dengan pantas karena kata-kata pemuda itu barusan membuatnya salah tingkah, menyebabkan telinganya mungkin memerah. Tanpa sengaja, Melvin menyentuh jari pemuda itu dan kedua netranya langsung melihat benang merah yang diikat rapi pada jari manis keduanya.

Hanya sedetik.

Melvin dengan jelas menyaksikan sesuatu yang luar biasa. Meskipun kemampuannya terbatas untuk melihat hanya dalam nuansa abu-abu, ia mampu melihat warna merah benang barusan tanpa bantuan alat apapun untuk pertama kalinya.

Melvin dan pemuda berdiri dalam diam untuk beberapa detik. Kemudian pemuda Omega itu berusaha untuk mengangkat kepalanya, sementara pemuda tinggi itu menatapnya dengan saksama, dengan ekspresi yang tampak terkejut di wajahnya.

Pertemuan yang tak terduga.

Di usia 26 tahun, Melvin Rahardian akhirnya bertemu dengan pasangan hidupnya, mate nya.