<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>kaiserwriting</title>
    <link>https://kaiserwriting.writeas.com/</link>
    <description></description>
    <pubDate>Sat, 04 Apr 2026 09:47:39 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>Tantangan</title>
      <link>https://kaiserwriting.writeas.com/tantangan?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Tantangan&#xA;&#xA;Saat ini, Jendral menapak masuk lagi ke dalam unit apartemen Nadarga untuk kedua kalinya. Berbeda dengan pertemuan awal mereka, Jendral hari ini tidak membawa laptop atau alat tulis apapun.&#xA;&#xA;“Laptop nya udah gua taroh di meja. Langsung aja di puter videonya. Lo mau minum apa?” Pertanyaan pertama Nadarga ketika dia menutup rapat pintu apartemen nya kembali. Nadarga memusingkan tubuhnya, menatap punggung tegap Jendral yang membelakanginya. Jendral menarik kerusi, kemudian mendudukkan dirinya.&#xA;&#xA;“Ga usah, gua sebentar aja” Jendral memandang ke arah Nadarga yang berjalan ke arahnya. Pemuda itu mengenakan celana joging abu-abu dan kaos putih polos. Terlihat tampan walaupun jelas kelihatan raut wajahnya yang sedang kecapean.&#xA;&#xA;Pemuda Agustus itu mengambil tempat di sebelah Jendral, memutarkan videonya langsung tanpa basa-basi. Sejujurnya dia cape banget hari ini, walaupun pulangnya cepet tapi jadwal mata kuliahnya mepet semua.&#xA;&#xA;“Gua ke intinya aja. Mulai dari penilaian juri. Pertama, lo harus ngerti isi-isi argumen yang bakal tim lo tampilin. Tugas juri bakal menilai kekuatan argumen dari kedua tim. Kalau isi argumen lo lemah, lo ga bakalan bisa ngebantah isi argumen tim lawan lo. Ngerti?”&#xA;&#xA;Refleks Jendral menganggukkan kepalanya berkali-kali. Kedua netranya tak lepas memandang ke arah Nadarga sedari tadi.&#xA;&#xA;Cantik banget.&#xA;&#xA;“Oh iya. Memangnya lo bisa hapalin semua nanti? I will never repeat the same damn thing again”  Nadarga menggunakan sebelah tangannya menyangga pipi kanannya sendiri lalu melihat ke arah Jendral yang sama tidak mencatat apapun. &#xA;&#xA; “Ya gapapa, asal gua ngerti”&#xA;&#xA;“Banyak banget yang mau gua jelasin. Gua ga yakin lo bisa pertahanin perhatian lo seratus persen ke gua sampe ke poin terakhir” Nadarga jeda-in videonya sebentar. Kini atensinya penuh ke arah Jendral yang fokus melihat skrin laptopnya.&#xA;&#xA;“Ya udah, kalau gua nya kelihatan lagi ga fokus tinggal dicium. Nanti pasti bisa fokus lagi” Dia terkekeh pelan pada akhir katanya, Nadarga pula menaikkan sebelah alisnya karena tak percaya dengan kata-katanya barusan. &#xA;&#xA;“Lo lagi bercanda? Kalau iya, candaan lo ga lucu” Nadarga kini bersandar pada kerusinya, melihat sekilas adik tingkatnya itu lalu menggelengkan kepalanya pelan. “Enteng banget bilang gituan. Padahal lo sendiri tau kalau gua gay” Kini atensi Jendral pada Nadarga yang masih menatap wajahnya dari samping. &#xA;&#xA;“Katanya deretan mantan lo cewe semua? Kok tiba-tiba come out ke gua kalau lo gay? Jangan bilang lo demen ya sama gua?” &#xA;&#xA;Nadarga tertawa setelah mendengar apa yang dikatakan Jendral barusan. Tangannya di bawa ke belakang Jendral, dia meletakkan tangannya pada sandaran kerusi yang diduduki pemuda itu.&#xA;&#xA;“Kalau gua demen beneran gimana?” &#xA;&#xA;Jeda, Jendral menatap kaget ke arah Nadarga yang tersenyum penuh arti padanya. Setelah itu pemuda itu tertawa lepas, Nadarga menjauhkan dirinya kemudian menepuk pahanya berkali-kali. &#xA;&#xA;“Kocak banget komuk lo barusan. Padahal gua lagi bercanda. Ya kali gua gay. Rumor gua sama Jeff itu ga bener. Gampang banget orang-orang pasa percaya yang gituan” &#xA;&#xA;“Terus, all the hickeys, the scars?”&#xA;&#xA;“Oh itu. Malemnya gua sempet ketemu sama partner one night stand gua. Catherine, satu angkatan sama lo” &#xA;&#xA;Fuck? Catherine anak baik itu?&#xA;&#xA;“Terus kenapa lo mau pas gua ngajakin ciuman, anjing?!” &#xA;&#xA;Jendral menendang kuat kerusi yang diduduki Nadarga sehingga jarak mereka semakin menjauh. Pemuda Leo itu hanya tertawa, kemudian menyangga dagu nya kembali sambil melihat ke arah wajah Jendral yang mulai memerah. &#xA;&#xA;“Penasaran aja, sama hadiah tantangan yang bakal lo dapet. Ternyata ponsel baru, lumayan lah. You have to say thanks to me.”&#xA;&#xA;Jendral menegakkan duduknya. Kedua alisnya menekuk, diikutin dengan kerutan pada jidatnya membuatkan Nadarga tersenyum lebar ke arahnya. &#xA;&#xA;Wait, what the actual fuck is happening?&#xA;&#xA;“Mau main-main sama gua juga?“ Soal Nadarga lalu menaikkan sebelah alisnya.&#xA;&#xA;“Maksud lo?”&#xA;&#xA;“Tantangan”&#xA;&#xA;Jendral mulai tak nyaman dengan duduknya. Sedaya upaya dia menormalkan degupan jantungnya yang semakin menggila. Mungkin raut wajahnya mulai kelihatan seperti kehilangan darah sekarang. &#xA;&#xA;“Tantangan?” Jendral menaikkan kedua sudut ujung bibirnya. Dia. Tak. Mahu. Keliatan. Sedang. Cemas.&#xA;&#xA;“I always want to win. Gua ambis, gua ga bakalan pernah mau ngalah. Tapi tergantung apa imbalannya dulu” &#xA;&#xA;“Imbalannya, if you win, you can do anything and ask anything you want from me asal ga di luar nalar kayak beliin Eiffel tower atau Lamborghini”&#xA;&#xA;“Kalau gua kalah?”&#xA;&#xA;“I will make you like my own fucking dog. Lo harus nerima apapun konsekuensinya even if I ask you to walk fully naked in my house” &#xA;&#xA;Jendral tertawa mendengar itu barusan. &#xA;&#xA;“Just admit it that you’re gay”&#xA;&#xA;Nadarga mengangguk pelan, tanpa harus berpikir kedua kalinya.&#xA;&#xA;“After you kissed me last time. I kept questioning my own sexuality so many times. Wanna have a last kiss before I tell you the dare?”&#xA;&#xA;Jendral menolak. &#xA;&#xA;Jendral? Menolak?&#xA;&#xA;Ga mungkin.&#xA;&#xA;Dia berdiri, dia berjalan mendekati Nadarga kemudian membungkukkan tubuhnya sedikit. Nadarga pula mengadahkan kepalanya ke atas, melihat bagaimana yang lebih muda mulai mengikis jarak wajah mereka berdua. &#xA;&#xA;“How did you know about the dare?” He whispered slowly, their lips almost touching. Nadarga just smiled widely while looking at Jendral’s pretty lips.&#xA;&#xA;“Go ask your stupid friends. Kenapa harus koar-koar di twitter? Kayak gua ga punya twitter aja” Nadarga mendekatkan wajahnya, menempel bibirnya kemudian menelusup mulut Jendral ketika pemuda itu membuka mulutnya memberi akses. &#xA;&#xA;Jendral membawa tangannya menahan belakang tengkuk Nadarga supaya memperdalam ciuman mereka. Kedua mata mereka tertutup rapat, sama sama saling menikmati cumbuan. &#xA;&#xA;Kedua tangan Nadarga naik menyentuh kedua sisi pinggang Jendral. Kedua matanya terbuka sedikit, merasa kaget kerana baru sadar bahwa pinggang pemuda itu ternyata seramping dan sekecil ini. Bahkan kedua ibu jari nya hampir bersentuhan. &#xA;&#xA;Masing-masing melepaskan tautan setelah itu. Jendral tampak manis dengan bibirnya yang berkilat. Nadarga menjilati bibir bawahnya sendiri lalu tertawa pelan apabila Jendral mengesat bibirnya sendiri. &#xA;&#xA;&#34;Dare nya apa? Don’t tell me that you’re almost forgetting about it after kissing with me.&#34; Satu hal yang bikin Nadarga semakin tertarik pada adik tingkatnya ini. Narsis, percaya diri, over-confident nya bahkan membuatnya kelihatan lebih menggoda. &#xA;&#xA;“Be my boyfriend for two weeks. Kalau lo beneran suka sama gua, berarti lo kalah. Dan kalau lo kalah, you can’t run away from me and act like nothing happened between us. Inget konsekuensi yang harus lo terima” &#xA;&#xA;“Be your dog?”&#xA;&#xA;“Yes”&#xA;&#xA;“Forever?”&#xA;&#xA;“Yes. Forever.&#xA;&#xA;Jendral tersenyum sinis, dia memegang rahang Nadarga. Melihat  lebih jelas betapa sempurna terpahatnya wajah itu. God’s favourite, huh?&#xA;&#xA;“And what will happen if you’re the one who falls in love with me first?”&#xA;&#xA;“It’s up to you”&#xA;&#xA;Jendral mengangguk, “Tapi kalau gua beneran suka sama lo sekalipun. Gua jago akting. Gua bisa pura-pura ga suka sama lo”&#xA;&#xA;“Same goes to me”&#xA;&#xA;“Jadi, kalau kita ga jatuh cinta selama dua minggu?”&#xA;&#xA;“Just act like nothing happens”&#xA;&#xA;Jendral terkekeh, “Ga seru”&#xA;&#xA;“Terus?”&#xA;&#xA;“Kita ngewe. Sex without involving any feelings sounds great, right?” Tanpa butuh menunggu lama Jendral melontarkan kata-kata itu barusan. &#xA;&#xA;Nadarga terdiam sebentar mendengarnya. Kemudian, perlahan-lahan dia mengangguk.&#xA;&#xA;“Sure”]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><strong>Tantangan</strong></p>

<p>Saat ini, Jendral menapak masuk lagi ke dalam unit apartemen Nadarga untuk kedua kalinya. Berbeda dengan pertemuan awal mereka, Jendral hari ini tidak membawa laptop atau alat tulis apapun.</p>

<p>“Laptop nya udah gua taroh di meja. Langsung aja di puter videonya. Lo mau minum apa?” Pertanyaan pertama Nadarga ketika dia menutup rapat pintu apartemen nya kembali. Nadarga memusingkan tubuhnya, menatap punggung tegap Jendral yang membelakanginya. Jendral menarik kerusi, kemudian mendudukkan dirinya.</p>

<p>“Ga usah, gua sebentar aja” Jendral memandang ke arah Nadarga yang berjalan ke arahnya. Pemuda itu mengenakan celana joging abu-abu dan kaos putih polos. Terlihat tampan walaupun jelas kelihatan raut wajahnya yang sedang kecapean.</p>

<p>Pemuda Agustus itu mengambil tempat di sebelah Jendral, memutarkan videonya langsung tanpa basa-basi. Sejujurnya dia cape banget hari ini, walaupun pulangnya cepet tapi jadwal mata kuliahnya mepet semua.</p>

<p>“Gua ke intinya aja. Mulai dari penilaian juri. Pertama, lo harus ngerti isi-isi argumen yang bakal tim lo tampilin. Tugas juri bakal menilai kekuatan argumen dari kedua tim. Kalau isi argumen lo lemah, lo ga bakalan bisa ngebantah isi argumen tim lawan lo. Ngerti?”</p>

<p>Refleks Jendral menganggukkan kepalanya berkali-kali. Kedua netranya tak lepas memandang ke arah Nadarga sedari tadi.</p>

<p><em>Cantik banget.</em></p>

<p>“Oh iya. Memangnya lo bisa hapalin semua nanti? <em>I will never repeat the same damn thing again”</em>  Nadarga menggunakan sebelah tangannya menyangga pipi kanannya sendiri lalu melihat ke arah Jendral yang sama tidak mencatat apapun.</p>

<p> “Ya gapapa, asal gua ngerti”</p>

<p>“Banyak banget yang mau gua jelasin. Gua ga yakin lo bisa pertahanin perhatian lo seratus persen ke gua sampe ke poin terakhir” Nadarga jeda-in videonya sebentar. Kini atensinya penuh ke arah Jendral yang fokus melihat skrin laptopnya.</p>

<p>“Ya udah, kalau gua nya kelihatan lagi ga fokus tinggal dicium. Nanti pasti bisa fokus lagi” Dia terkekeh pelan pada akhir katanya, Nadarga pula menaikkan sebelah alisnya karena tak percaya dengan kata-katanya barusan.</p>

<p>“Lo lagi bercanda? Kalau iya, candaan lo ga lucu” Nadarga kini bersandar pada kerusinya, melihat sekilas adik tingkatnya itu lalu menggelengkan kepalanya pelan. “Enteng banget bilang gituan. Padahal lo sendiri tau kalau gua <em>gay”</em> Kini atensi Jendral pada Nadarga yang masih menatap wajahnya dari samping.</p>

<p>“Katanya deretan mantan lo cewe semua? Kok tiba-tiba <em>come out</em> ke gua kalau lo <em>gay?</em> Jangan bilang lo demen ya sama gua?”</p>

<p>Nadarga tertawa setelah mendengar apa yang dikatakan Jendral barusan. Tangannya di bawa ke belakang Jendral, dia meletakkan tangannya pada sandaran kerusi yang diduduki pemuda itu.</p>

<p>“Kalau gua demen beneran gimana?”</p>

<p>Jeda, Jendral menatap kaget ke arah Nadarga yang tersenyum penuh arti padanya. Setelah itu pemuda itu tertawa lepas, Nadarga menjauhkan dirinya kemudian menepuk pahanya berkali-kali.</p>

<p>“Kocak banget komuk lo barusan. Padahal gua lagi bercanda. Ya kali gua <em>gay.</em> Rumor gua sama Jeff itu ga bener. Gampang banget orang-orang pasa percaya yang gituan”</p>

<p>“Terus, <em>all the hickeys, the scars?”</em></p>

<p>“Oh itu. Malemnya gua sempet ketemu sama <em>partner one night stand</em> gua. Catherine, satu angkatan sama lo”</p>

<p><em>Fuck?</em> Catherine anak baik itu?</p>

<p>“Terus kenapa lo mau pas gua ngajakin ciuman, anjing?!”</p>

<p>Jendral menendang kuat kerusi yang diduduki Nadarga sehingga jarak mereka semakin menjauh. Pemuda Leo itu hanya tertawa, kemudian menyangga dagu nya kembali sambil melihat ke arah wajah Jendral yang mulai memerah.</p>

<p>“Penasaran aja, sama hadiah tantangan yang bakal lo dapet. Ternyata ponsel baru, lumayan lah. <em>You have to say thanks to me.”</em></p>

<p>Jendral menegakkan duduknya. Kedua alisnya menekuk, diikutin dengan kerutan pada jidatnya membuatkan Nadarga tersenyum lebar ke arahnya.</p>

<p><em>Wait, what the actual fuck is happening?</em></p>

<p>“Mau main-main sama gua juga?“ Soal Nadarga lalu menaikkan sebelah alisnya.</p>

<p>“Maksud lo?”</p>

<p><em><strong>“Tantangan”</strong></em></p>

<p>Jendral mulai tak nyaman dengan duduknya. Sedaya upaya dia menormalkan degupan jantungnya yang semakin menggila. Mungkin raut wajahnya mulai kelihatan seperti kehilangan darah sekarang.</p>

<p><em><strong>“Tantangan?”</strong></em> Jendral menaikkan kedua sudut ujung bibirnya. <em>Dia. Tak. Mahu. Keliatan. Sedang. Cemas.</em></p>

<p><em>“I always want to win.</em> Gua ambis, gua ga bakalan pernah mau ngalah. Tapi tergantung apa imbalannya dulu”</p>

<p>“Imbalannya, <em>if you win, you can do anything and ask anything you want from me</em> asal ga di luar nalar kayak beliin <em>Eiffel</em> tower atau <em>Lamborghini”</em></p>

<p>“Kalau gua kalah?”</p>

<p><em>“I will make you like my own fucking dog</em>. Lo harus nerima apapun konsekuensinya <em>even if I ask you to walk fully naked in my house”</em></p>

<p>Jendral tertawa mendengar itu barusan.</p>

<p><em>“Just admit it that you’re gay”</em></p>

<p>Nadarga mengangguk pelan, tanpa harus berpikir kedua kalinya.</p>

<p><em>“After you kissed me last time. I kept questioning my own sexuality so many times. Wanna have a last kiss before I tell you the dare?”</em></p>

<p>Jendral menolak.</p>

<p><em>Jendral? Menolak?</em></p>

<p><em>Ga mungkin.</em></p>

<p>Dia berdiri, dia berjalan mendekati Nadarga kemudian membungkukkan tubuhnya sedikit. Nadarga pula mengadahkan kepalanya ke atas, melihat bagaimana yang lebih muda mulai mengikis jarak wajah mereka berdua.</p>

<p><em>“How did you know about the dare?” He whispered slowly, their lips almost touching. Nadarga just smiled widely while looking at Jendral’s pretty lips.</em></p>

<p><em>“Go ask your stupid friends.</em> Kenapa harus koar-koar di twitter? Kayak gua ga punya twitter aja” Nadarga mendekatkan wajahnya, menempel bibirnya kemudian menelusup mulut Jendral ketika pemuda itu membuka mulutnya memberi akses.</p>

<p>Jendral membawa tangannya menahan belakang tengkuk Nadarga supaya memperdalam ciuman mereka. Kedua mata mereka tertutup rapat, sama sama saling menikmati cumbuan.</p>

<p>Kedua tangan Nadarga naik menyentuh kedua sisi pinggang Jendral. Kedua matanya terbuka sedikit, merasa kaget kerana baru sadar bahwa pinggang pemuda itu ternyata seramping dan sekecil ini. Bahkan kedua ibu jari nya hampir bersentuhan.</p>

<p>Masing-masing melepaskan tautan setelah itu. Jendral tampak manis dengan bibirnya yang berkilat. Nadarga menjilati bibir bawahnya sendiri lalu tertawa pelan apabila Jendral mengesat bibirnya sendiri.</p>

<p><em>“Dare nya apa? Don’t tell me that you’re almost forgetting about it after kissing with me.”</em> Satu hal yang bikin Nadarga semakin tertarik pada adik tingkatnya ini. Narsis, percaya diri, <em>over-confident</em> nya bahkan membuatnya kelihatan lebih menggoda.</p>

<p><em>“Be my boyfriend for two weeks.</em> Kalau lo beneran suka sama gua, berarti lo kalah. Dan kalau lo kalah, <em>you can’t run away from me and act like nothing happened between us.</em> Inget konsekuensi yang harus lo terima”</p>

<p><em>“Be your dog?”</em></p>

<p><em>“Yes”</em></p>

<p><em>“Forever?”</em></p>

<p><em>“Yes. Forever.</em></p>

<p>Jendral tersenyum sinis, dia memegang rahang Nadarga. Melihat  lebih jelas betapa sempurna terpahatnya wajah itu. <em>God’s favourite, huh?</em></p>

<p><em>“And what will happen if you’re the one who falls in love with me first?”</em></p>

<p><em>“It’s up to you”</em></p>

<p>Jendral mengangguk, “Tapi kalau gua beneran suka sama lo sekalipun. Gua jago akting. Gua bisa pura-pura ga suka sama lo”</p>

<p><em>“Same goes to me”</em></p>

<p>“Jadi, kalau kita ga jatuh cinta selama dua minggu?”</p>

<p><em>“Just act like nothing happens”</em></p>

<p>Jendral terkekeh, “Ga seru”</p>

<p>“Terus?”</p>

<p>“Kita ngewe. <em>Sex without involving any feelings sounds great, right?”</em> Tanpa butuh menunggu lama Jendral melontarkan kata-kata itu barusan.</p>

<p>Nadarga terdiam sebentar mendengarnya. Kemudian, perlahan-lahan dia mengangguk.</p>

<p><em>“Sure”</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://kaiserwriting.writeas.com/tantangan</guid>
      <pubDate>Wed, 24 May 2023 16:23:11 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>First Met</title>
      <link>https://kaiserwriting.writeas.com/first-met-9dzg?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[First Met &#xA;&#xA;Saat matahari mulai terbenam, langit yang tadinya biru berubah menjadi rona jingga yang hangat. Angin sepoi-sepoi membawa suara gemerisik dedaunan kering di sepanjang jalan. Akhirnya, trotoar yang kering disegarkan dengan sentuhan tetesan air hujan yang perlahan mulai deras.&#xA;&#xA;Melvin diliputi rasa frustrasi dan mulai melontarkan kata-kata kasar saat melihat tetesan air hujan jatuh di atas kanvas lukisannya yang belum kering. Tidak peduli jika nanti alat melukisnya berantakan. Dia memasukkan semuanya dengan pantas lalu dengan segera mencari perlindungan di bawah pohon terdekat.&#xA;&#xA;Melvin merasa kecewa melihat beberapa warna di kanvasnya telah memudar akibat terkena air hujan. Dia mendengus kesal. Saat dia melihat ke jalanan yang basah kuyup oleh hujan, dia merasakan angin bertiup dan hujan menerpa wajahnya. Bibirnya cemberut karena merasa jengkel. Melvin mengeluarkan ponselnya dan memeriksa aplikasi ramalan cuaca.&#xA;&#xA;“Yah, hari ini seharusnya ga hujan, tapi kenapa sekarang malah deres banget, sih?&#34; Kapita, yang juga berlindung di sebelahnya, diam-diam menjawab keluhan frustrasinya itu barusan. Melvin menyadari orang itu sedang berbicara dengannya secara refleks memutar kepalanya sedikit.&#xA;&#xA;“Namanya juga ramalan. Bahkan kemarin tuh seharusnya hujan seharian. Tapi malah panas terus, kan? Mana sampe 34 derajat pula.” Pemuda itu berujar tanpa melihat kearahnya karena dia sibuk menghalangi tetesan air hujan yang mengenai wajahnya. Angin begitu kencang bahkan Melvin harus menggunakan kanvasnya yang berantakan untuk memblokir bagian tubuhnya.&#xA;&#xA;Ketika mata mereka bertemu, Melvin dengan cepat memalingkan muka, karena dirinya merasa malu karena sudah mengoceh gajelas dan wajahnya juga mulai memerah. Melvin baru menyadari bahwa pemuda di sebelahnya adalah sumber dari aroma mint citrus yang dia cium sebelumnya. Bagaimana dia bisa tidak menyadari kehadiran pemuda itu?&#xA;&#xA;Perhatian pemuda itu tertuju pada kanvas nya yang berukuran sederhana pada tangannya, menyebabkan Melvin merasa malu dan dengan cepat mengarahkan lukisan itu ke arahnya.&#xA;&#xA;“Bagus banget lukisannya”&#xA;&#xA;Mendengar itu, Melvin langsung terbatuk pelan. Dia melihat hasil lukisannya dan juga wajah pria itu silih berganti. Pria itu masih memuji, bahkan mengagumi lukisannya yang sudah rusak itu. Melvin kan jadi nethink. Masa dia sedang diledekin? Meskipun ekspresinya serius, Melvin tidak yakin.&#xA;&#xA;“Haha, ini malah sudah hancur. Warnanya udah luntur gini kamu bilang bagus. Makasih loh, Mas. Walaupun saya ngerasa kayak lagi diledekin.” Melvin tertawa geli melihat bagaimana bisa seseorang memuji hasil lukisannya yang sekarang ini?&#xA;&#xA;“Iya, saya tau ini udah luntur. Tapi kombinasi warnnanya bagus kok. Gambarnya kayak ngasih arti, since you painted the garden, the sky, the sun over there, seems like you really want a peaceful life. Terus ini, the water drop from the sky is really like a tear. Your sadness tears,yang ngancurin mimpi kamu makanya gambarnya berantakan... oh maaf, saya malah berlebihan hahah..”  &#xA;&#xA;Kedua netranya membulat. Pemuda bertubuh tinggi itu memegang kanvasnya dengan pandangan teduh. Bulu matanya panjang cantik, hidung nya mancung, struktur wajahnya sempurna. &#xA;&#xA;Terlalu sempurna.&#xA;&#xA;“Daripada di buang, mending saya yang beli aja” Begitu dia berbicara, tatapan mereka terkunci bersama. Melvin merasakan gejolak campuran emosi pada dirinya, menyebabkan jantungnya berdebar kencang dan tubuhnya menjadi dingin. Ada lonjakan adrenalin yang tak dapat dijelaskan mengalir melalui dirinya, membuatnya merasa senang sekaligus takut.&#xA;&#xA;Melvin mengambil kembali kanvasnya dengan pantas karena kata-kata pemuda itu barusan membuatnya salah tingkah, menyebabkan telinganya mungkin memerah. Tanpa sengaja, Melvin menyentuh jari pemuda itu dan kedua netranya langsung melihat benang merah yang diikat rapi pada jari manis keduanya.&#xA;&#xA;Hanya sedetik.&#xA;&#xA;Melvin dengan jelas menyaksikan sesuatu yang luar biasa. Meskipun kemampuannya terbatas untuk melihat hanya dalam nuansa abu-abu, ia mampu melihat warna merah benang barusan tanpa bantuan alat apapun untuk pertama kalinya.&#xA;&#xA;Melvin dan pemuda berdiri dalam diam untuk beberapa detik. Kemudian Melvin berusaha untuk mengangkat kepalanya, sementara pemuda itu menatapnya dengan saksama, dengan ekspresi yang tampak terkejut di wajahnya.&#xA;&#xA;Pertemuan yang tak terduga.&#xA;&#xA;Di usia 26 tahun, Melvin Rahardian akhirnya bertemu dengan pasangan hidupnya, matenya.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><strong>First Met</strong></p>

<p>Saat matahari mulai terbenam, langit yang tadinya biru berubah menjadi rona jingga yang hangat. Angin sepoi-sepoi membawa suara gemerisik dedaunan kering di sepanjang jalan. Akhirnya, trotoar yang kering disegarkan dengan sentuhan tetesan air hujan yang perlahan mulai deras.</p>

<p>Melvin diliputi rasa frustrasi dan mulai melontarkan kata-kata kasar saat melihat tetesan air hujan jatuh di atas kanvas lukisannya yang belum kering. Tidak peduli jika nanti alat melukisnya berantakan. Dia memasukkan semuanya dengan pantas lalu dengan segera mencari perlindungan di bawah pohon terdekat.</p>

<p>Melvin merasa kecewa melihat beberapa warna di kanvasnya telah memudar akibat terkena air hujan. Dia mendengus kesal. Saat dia melihat ke jalanan yang basah kuyup oleh hujan, dia merasakan angin bertiup dan hujan menerpa wajahnya. Bibirnya cemberut karena merasa jengkel. Melvin mengeluarkan ponselnya dan memeriksa aplikasi ramalan cuaca.</p>

<p>“Yah, hari ini seharusnya ga hujan, tapi kenapa sekarang malah deres banget, sih?” Kapita, yang juga berlindung di sebelahnya, diam-diam menjawab keluhan frustrasinya itu barusan. Melvin menyadari orang itu sedang berbicara dengannya secara refleks memutar kepalanya sedikit.</p>

<p>“Namanya juga ramalan. Bahkan kemarin tuh seharusnya hujan seharian. Tapi malah panas terus, kan? Mana sampe 34 derajat pula.” Pemuda itu berujar tanpa melihat kearahnya karena dia sibuk menghalangi tetesan air hujan yang mengenai wajahnya. Angin begitu kencang bahkan Melvin harus menggunakan kanvasnya yang berantakan untuk memblokir bagian tubuhnya.</p>

<p>Ketika mata mereka bertemu, Melvin dengan cepat memalingkan muka, karena dirinya merasa malu karena sudah mengoceh gajelas dan wajahnya juga mulai memerah. Melvin baru menyadari bahwa pemuda di sebelahnya adalah sumber dari aroma <em>mint citrus</em> yang dia cium sebelumnya. Bagaimana dia bisa tidak menyadari kehadiran pemuda itu?</p>

<p>Perhatian pemuda itu tertuju pada kanvas nya yang berukuran sederhana pada tangannya, menyebabkan Melvin merasa malu dan dengan cepat mengarahkan lukisan itu ke arahnya.</p>

<p>“Bagus banget lukisannya”</p>

<p>Mendengar itu, Melvin langsung terbatuk pelan. Dia melihat hasil lukisannya dan juga wajah pria itu silih berganti. Pria itu masih memuji, bahkan mengagumi lukisannya yang sudah rusak itu. Melvin kan jadi nethink. Masa dia sedang diledekin? Meskipun ekspresinya serius, Melvin tidak yakin.</p>

<p>“Haha, ini malah sudah hancur. Warnanya udah luntur gini kamu bilang bagus. Makasih loh, Mas. Walaupun saya ngerasa kayak lagi diledekin.” Melvin tertawa geli melihat bagaimana bisa seseorang memuji hasil lukisannya yang sekarang ini?</p>

<p>“Iya, saya tau ini udah luntur. Tapi kombinasi warnnanya bagus kok. Gambarnya kayak ngasih arti, <em>since you painted the garden, the sky, the sun over there, seems like you really want a peaceful life.</em> Terus ini, <em>the water drop from the sky is really like a tear. Your sadness tears,</em>yang ngancurin mimpi kamu makanya gambarnya berantakan... oh maaf, saya malah berlebihan hahah..”</p>

<p>Kedua netranya membulat. Pemuda bertubuh tinggi itu memegang kanvasnya dengan pandangan teduh. Bulu matanya panjang cantik, hidung nya mancung, struktur wajahnya sempurna.</p>

<p>Terlalu sempurna.</p>

<p>“Daripada di buang, mending saya yang beli aja” Begitu dia berbicara, tatapan mereka terkunci bersama. Melvin merasakan gejolak campuran emosi pada dirinya, menyebabkan jantungnya berdebar kencang dan tubuhnya menjadi dingin. Ada lonjakan adrenalin yang tak dapat dijelaskan mengalir melalui dirinya, membuatnya merasa senang sekaligus takut.</p>

<p>Melvin mengambil kembali kanvasnya dengan pantas karena kata-kata pemuda itu barusan membuatnya salah tingkah, menyebabkan telinganya mungkin memerah. Tanpa sengaja, Melvin menyentuh jari pemuda itu dan kedua netranya langsung melihat benang merah yang diikat rapi pada jari manis keduanya.</p>

<p><em>Hanya sedetik.</em></p>

<p>Melvin dengan jelas menyaksikan sesuatu yang luar biasa. Meskipun kemampuannya terbatas untuk melihat hanya dalam nuansa abu-abu, ia mampu melihat warna merah benang barusan tanpa bantuan alat apapun untuk pertama kalinya.</p>

<p>Melvin dan pemuda berdiri dalam diam untuk beberapa detik. Kemudian Melvin berusaha untuk mengangkat kepalanya, sementara pemuda itu menatapnya dengan saksama, dengan ekspresi yang tampak terkejut di wajahnya.</p>

<p>Pertemuan yang tak terduga.</p>

<p>Di usia 26 tahun, Melvin Rahardian akhirnya bertemu dengan pasangan hidupnya, <em>matenya.</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://kaiserwriting.writeas.com/first-met-9dzg</guid>
      <pubDate>Tue, 16 May 2023 11:31:59 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>First Met</title>
      <link>https://kaiserwriting.writeas.com/first-met?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[First Met &#xA;&#xA;Saat matahari mulai terbenam, langit yang tadinya biru berubah menjadi rona jingga yang hangat. Angin sepoi-sepoi membawa suara gemerisik dedaunan kering di sepanjang jalan. Akhirnya, trotoar yang kering disegarkan dengan sentuhan tetesan air hujan yang perlahan mulai deras.&#xA;&#xA;Melvin diliputi rasa frustrasi dan mulai melontarkan kata-kata kasar saat melihat tetesan air hujan jatuh di atas kanvas lukisannya yang belum kering. Tidak peduli jika nanti alat melukisnya berantakan. Dia memasukkan semuanya dengan pantas lalu dengan segera mencari perlindungan di bawah pohon terdekat.&#xA;&#xA;Melvin merasa kecewa melihat beberapa warna di kanvasnya telah memudar akibat terkena air hujan. Dia mendengus kesal. Saat dia melihat ke jalanan yang basah kuyup oleh hujan, dia merasakan angin bertiup dan hujan menerpa wajahnya. Bibirnya cemberut karena merasa jengkel. Melvin mengeluarkan ponselnya dan memeriksa aplikasi ramalan cuaca.&#xA;&#xA;“Yah, hari ini seharusnya ga hujan, tapi kenapa sekarang malah deres banget, sih?&#34; Kapita, yang juga berlindung di sebelahnya, diam-diam menjawab keluhan frustrasinya itu barusan. Melvin menyadari orang itu sedang berbicara dengannya secara refleks memutar kepalanya sedikit.&#xA;&#xA;“Namanya juga ramalan. Bahkan kemarin tuh seharusnya hujan seharian. Tapi malah panas terus, kan? Mana sampe 34 derajat pula.” Pemuda itu berujar tanpa melihat kearahnya karena dia sibuk menghalangi tetesan air hujan yang mengenai wajahnya. Angin begitu kencang bahkan Melvin harus menggunakan kanvasnya yang berantakan untuk memblokir bagian tubuhnya.&#xA;&#xA;Ketika mata mereka bertemu, Melvin dengan cepat memalingkan muka, karena dirinya merasa malu karena sudah mengoceh gajelas dan wajahnya juga mulai memerah. Melvin baru menyadari bahwa pemuda di sebelahnya adalah sumber dari aroma mint citrus yang dia cium sebelumnya. Bagaimana dia bisa tidak menyadari kehadiran pemuda itu?&#xA;&#xA;Perhatian pemuda itu tertuju pada kanvas nya yang berukuran sederhana pada tangannya, menyebabkan Melvin merasa malu dan dengan cepat mengarahkan lukisan itu ke arahnya.&#xA;&#xA;“Bagus banget lukisannya”&#xA;&#xA;Mendengar itu, Melvin langsung terbatuk pelan. Dia melihat hasil lukisannya dan juga pria itu silih berganti. Pria itu masih memuji, bahkan mengagumi lukisannya yang sudah rusak itu. Melvin kan jadi nethink. Masa dia sedang diledekin? Meskipun ekspresinya serius, Melvin tidak yakin.&#xA;&#xA;“Haha, ini malah sudah hancur. Warnanya udah luntur gini kamu bilang bagus. Makasih loh, Mas. Walaupun saya ngerasa kayak lagi diledekin.” Melvin tertawa geli melihat bagaimana bisa seseorang memuji hasil lukisannya yang sekarang ini?&#xA;&#xA;“Iya, saya tau ini udah luntur. Tapi kombinasi warnnanya bagus kok. Gambarnya kayak ngasih arti, since you painted the garden, the sky, the sun over there, seems like you really want a peaceful life. Terus ini, the water drop from the sky is really like a tear. Your sadness tears, yang ngancurin mimpi kamu makanya gambarnya berantakan... oh maaf, saya malah berlebihan hahah..”  &#xA;&#xA;Kedua netranya membulat. Pemuda bertubuh tinggi itu memegang kanvasnya dengan pandangan teduh. Bulu matanya panjang cantik, hidung nya mancung, struktur wajahnya sempurna. &#xA;&#xA;Terlalu sempurna.&#xA;&#xA;“Daripada di buang, mending saya yang beli aja” Begitu dia berbicara, tatapan mereka terkunci bersama. Melvin merasakan gejolak campuran emosi pada dirinya, menyebabkan jantungnya berdebar kencang dan tubuhnya menjadi dingin. Ada lonjakan adrenalin yang tak dapat dijelaskan mengalir melalui dirinya, membuatnya merasa senang sekaligus takut.&#xA;&#xA;Melvin mengambil kembali kanvasnya dengan pantas karena kata-kata pemuda itu barusan membuatnya salah tingkah, menyebabkan telinganya mungkin memerah. Tanpa sengaja, Melvin menyentuh jari pemuda itu dan kedua netranya langsung melihat benang merah yang diikat rapi pada jari manis keduanya.&#xA;&#xA;Hanya sedetik. &#xA;&#xA;Melvin dengan jelas menyaksikan sesuatu yang luar biasa. Meskipun kemampuannya terbatas untuk melihat hanya dalam nuansa abu-abu, ia mampu melihat warna merah benang barusan tanpa bantuan alat apapun untuk pertama kalinya.&#xA;&#xA;Melvin dan pemuda berdiri dalam diam untuk beberapa detik. Kemudian pemuda Omega itu berusaha untuk mengangkat kepalanya, sementara pemuda tinggi itu menatapnya dengan saksama, dengan ekspresi yang tampak terkejut di wajahnya.&#xA;&#xA;Pertemuan yang tak terduga.&#xA;&#xA;Di usia 26 tahun, Melvin Rahardian akhirnya bertemu dengan pasangan hidupnya, mate nya. ]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><strong>First Met</strong></p>

<p>Saat matahari mulai terbenam, langit yang tadinya biru berubah menjadi rona jingga yang hangat. Angin sepoi-sepoi membawa suara gemerisik dedaunan kering di sepanjang jalan. Akhirnya, trotoar yang kering disegarkan dengan sentuhan tetesan air hujan yang perlahan mulai deras.</p>

<p>Melvin diliputi rasa frustrasi dan mulai melontarkan kata-kata kasar saat melihat tetesan air hujan jatuh di atas kanvas lukisannya yang belum kering. Tidak peduli jika nanti alat melukisnya berantakan. Dia memasukkan semuanya dengan pantas lalu dengan segera mencari perlindungan di bawah pohon terdekat.</p>

<p>Melvin merasa kecewa melihat beberapa warna di kanvasnya telah memudar akibat terkena air hujan. Dia mendengus kesal. Saat dia melihat ke jalanan yang basah kuyup oleh hujan, dia merasakan angin bertiup dan hujan menerpa wajahnya. Bibirnya cemberut karena merasa jengkel. Melvin mengeluarkan ponselnya dan memeriksa aplikasi ramalan cuaca.</p>

<p>“Yah, hari ini seharusnya ga hujan, tapi kenapa sekarang malah deres banget, sih?” Kapita, yang juga berlindung di sebelahnya, diam-diam menjawab keluhan frustrasinya itu barusan. Melvin menyadari orang itu sedang berbicara dengannya secara refleks memutar kepalanya sedikit.</p>

<p>“Namanya juga ramalan. Bahkan kemarin tuh seharusnya hujan seharian. Tapi malah panas terus, kan? Mana sampe 34 derajat pula.” Pemuda itu berujar tanpa melihat kearahnya karena dia sibuk menghalangi tetesan air hujan yang mengenai wajahnya. Angin begitu kencang bahkan Melvin harus menggunakan kanvasnya yang berantakan untuk memblokir bagian tubuhnya.</p>

<p>Ketika mata mereka bertemu, Melvin dengan cepat memalingkan muka, karena dirinya merasa malu karena sudah mengoceh gajelas dan wajahnya juga mulai memerah. Melvin baru menyadari bahwa pemuda di sebelahnya adalah sumber dari aroma <em>mint citrus</em> yang dia cium sebelumnya. Bagaimana dia bisa tidak menyadari kehadiran pemuda itu?</p>

<p>Perhatian pemuda itu tertuju pada kanvas nya yang berukuran sederhana pada tangannya, menyebabkan Melvin merasa malu dan dengan cepat mengarahkan lukisan itu ke arahnya.</p>

<p>“Bagus banget lukisannya”</p>

<p>Mendengar itu, Melvin langsung terbatuk pelan. Dia melihat hasil lukisannya dan juga pria itu silih berganti. Pria itu masih memuji, bahkan mengagumi lukisannya yang sudah rusak itu. Melvin kan jadi nethink. Masa dia sedang diledekin? Meskipun ekspresinya serius, Melvin tidak yakin.</p>

<p>“Haha, ini malah sudah hancur. Warnanya udah luntur gini kamu bilang bagus. Makasih loh, Mas. Walaupun saya ngerasa kayak lagi diledekin.” Melvin tertawa geli melihat bagaimana bisa seseorang memuji hasil lukisannya yang sekarang ini?</p>

<p>“Iya, saya tau ini udah luntur. Tapi kombinasi warnnanya bagus kok. Gambarnya kayak ngasih arti, since you painted the garden, the sky, the sun over there, seems like you really want a peaceful life. Terus ini, the water drop from the sky is really like a tear. Your sadness tears, yang ngancurin mimpi kamu makanya gambarnya berantakan... oh maaf, saya malah berlebihan hahah..”</p>

<p>Kedua netranya membulat. Pemuda bertubuh tinggi itu memegang kanvasnya dengan pandangan teduh. Bulu matanya panjang cantik, hidung nya mancung, struktur wajahnya sempurna.</p>

<p>Terlalu sempurna.</p>

<p>“Daripada di buang, mending saya yang beli aja” Begitu dia berbicara, tatapan mereka terkunci bersama. Melvin merasakan gejolak campuran emosi pada dirinya, menyebabkan jantungnya berdebar kencang dan tubuhnya menjadi dingin. Ada lonjakan adrenalin yang tak dapat dijelaskan mengalir melalui dirinya, membuatnya merasa senang sekaligus takut.</p>

<p>Melvin mengambil kembali kanvasnya dengan pantas karena kata-kata pemuda itu barusan membuatnya salah tingkah, menyebabkan telinganya mungkin memerah. Tanpa sengaja, Melvin menyentuh jari pemuda itu dan kedua netranya langsung melihat benang merah yang diikat rapi pada jari manis keduanya.</p>

<p>Hanya sedetik.</p>

<p>Melvin dengan jelas menyaksikan sesuatu yang luar biasa. Meskipun kemampuannya terbatas untuk melihat hanya dalam nuansa abu-abu, ia mampu melihat warna merah benang barusan tanpa bantuan alat apapun untuk pertama kalinya.</p>

<p>Melvin dan pemuda berdiri dalam diam untuk beberapa detik. Kemudian pemuda Omega itu berusaha untuk mengangkat kepalanya, sementara pemuda tinggi itu menatapnya dengan saksama, dengan ekspresi yang tampak terkejut di wajahnya.</p>

<p>Pertemuan yang tak terduga.</p>

<p>Di usia 26 tahun, Melvin Rahardian akhirnya bertemu dengan pasangan hidupnya, mate nya.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://kaiserwriting.writeas.com/first-met</guid>
      <pubDate>Tue, 16 May 2023 11:29:48 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Demi Iphone II</title>
      <link>https://kaiserwriting.writeas.com/demi-iphone-ii-h3rg?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Demi Iphone II&#xA;&#xA;Setelah mendengar kata-kata yang diujarkan pemuda yang lebih mudanya barusan membuatkan Nadarga terkekeh pelan. Dia menaikkan sebelah alisnya ke atas.&#xA;&#xA;“Kenapa gua harus ngelakuin itu?” &#xA;&#xA;Jendral memandang lama wajah Nadarga yang menikam lurus ke arahnya. Suasanya menjadi sedikit tegang, hawa yang awalnya merasa dingin tadi tiba-tiba menjadi panas kembali. &#xA;&#xA;Perlahan-lahan wajah Jendral berubah warna. Wajahnya memerah, dia langsung membuang pandangannya ke tempat lain. Jantungnya semakin berdetak tak karuan. Sama ada dia takut, cemas, atau malu.&#xA;&#xA;Dia sendiri bingung dengan dirinya sendiri.  &#xA;&#xA;“Nyesel banget gua” Monolognya sendiri sambil menggertak giginya. Jendral sengaja terbatuk pelan, menghilangkan suasana canggung antara mereka berdua.&#xA;&#xA;“Gua penasaran aja sebenarnya, cuman mau tau reaksi lo. Gua ga nyangka kalau lo beneran kepancing sama kata-kata gua.” Jendral tertawa pelan, namun Nadarga tetap dengan reaksi datarnya membuatkan senyumannya mati serta-merta. &#xA;&#xA;“Kenapa gua yang harus ngelakuin itu duluan? Why should I kiss you first when you’re the one who want me?” Sepasang netra mereka bertatapan lama, kemudian Jendral menelan liurnya bersusah payah. &#xA;&#xA;God, have mercy..&#xA;&#xA;“Come here. Kenapa liatin gua segitunya?” Bagai terhipnotis buat kesekian kalinya. Jendral maju mendekat, tidak lupa ponselnya yang sedari tadi menyala dibalik tas laptopnya merekam perilakunya.&#xA;&#xA;Dia ga boleh gagal. &#xA;&#xA;Jarak keduanya semakin menipis. Dengan pergerakan yang sedikit canggung, Jendral meletakkan tangan kanannya pada pinggang Nadarga, manakala tangan kirinya menyentuh pipi pemuda itu. &#xA;&#xA;“Lo cantik banget” Bisiknya pelan pada Nadarga. Kemudian, Nadarga memegang pergelangan tangan Jendral yang menyentuh wajahnya, ditahan, kemudian telapak tangan Jendral dikecup pelan.&#xA;&#xA;“The mole under your eye looks beautiful”&#xA;&#xA;Ujar pemuda berkelahiran Agustus itu lalu memejamkan kedua matanya ketika wajah Jendral mendekat. Benar, rasa hangat menjalar pada sekujur tubuhnya ketika bibir mereka menyatu. &#xA;&#xA;Jendral turut menutup kedua netranya ketika Nadarga membalas ciumannya. Both are the good kisser, keduanya kelihatan lihai dan berpengalaman ketika melakukannya.&#xA;&#xA;Saling beradu lidah, dan sama-sama bisa mengatur napas. Jendral refleks membuka kedua matanya apabila lidah Nadarga hampir menyentuh hujung isi mulutnya. Nadarga bukan sekedar menciumnya, tapi benar benar mengabsen seisi mulut Jendral dengan lidahnya.&#xA;&#xA;Sama sama saling tak mahu mengalah, Nadarga membawa tangannya menyentuh belakang tengkuk Jendral, menekannya lebih dalam agar dapat memperdalam ciuman mereka. &#xA;&#xA;Tangan Jendral yang memegang pinggang Nadarga mulai naik meremat bahunya, dia mulai kehabisan napas, saliva tak berhenti mengalir melalui dagunya. Nadarga malah semakin gencar menciumnya, sempat menggigit hujung lidahnya membuatkan Jendral terpekik pelan sehingga ciuman mereka terputus. &#xA;&#xA;Jendral mengundur beberapa langkah, bahagian mulut dan dahunya di kesat dengan bajunya. Napasnya terburu, dia menjelirkan lidahnya, menyentuh hujungya pada jarinya, dan benar ada darah disana. &#xA;&#xA;“Shit”&#xA;&#xA;Jendral melihat ke arah Nadarga yang juga barusan mengesat bibir dengan lengannya sendiri. Ada kesan luka pada bibirnya. Jendral yang mengigitnya barusan di sela ciuman mereka yang mulai mengganas. &#xA;&#xA;Nadarga tersenyum lebar, wajahnya menunjukkan reaksi kaget. Dia juga beneran tak menyangka bahwa Jendral juga bisa dalam perihal ini. &#xA;&#xA;“Woah, you’re such a good kisser”&#xA;&#xA;Jendral mengatur napasnya. “Jadi, sebelumnya lo ngeremehin gua ceritanya?” Nadarga hanya tertawa pelan sebagai jawaban. &#xA;&#xA;Finally. He made it.&#xA;&#xA;Dan sialnya dia malah candu.&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><strong>Demi Iphone II</strong></p>

<p>Setelah mendengar kata-kata yang diujarkan pemuda yang lebih mudanya barusan membuatkan Nadarga terkekeh pelan. Dia menaikkan sebelah alisnya ke atas.</p>

<p>“Kenapa gua harus ngelakuin itu?”</p>

<p>Jendral memandang lama wajah Nadarga yang menikam lurus ke arahnya. Suasanya menjadi sedikit tegang, hawa yang awalnya merasa dingin tadi tiba-tiba menjadi panas kembali.</p>

<p>Perlahan-lahan wajah Jendral berubah warna. Wajahnya memerah, dia langsung membuang pandangannya ke tempat lain. Jantungnya semakin berdetak tak karuan. Sama ada dia takut, cemas, atau malu.</p>

<p>Dia sendiri bingung dengan dirinya sendiri.</p>

<p><em>“Nyesel banget gua”</em> Monolognya sendiri sambil menggertak giginya. Jendral sengaja terbatuk pelan, menghilangkan suasana canggung antara mereka berdua.</p>

<p>“Gua penasaran aja sebenarnya, cuman mau tau reaksi lo. Gua ga nyangka kalau lo beneran kepancing sama kata-kata gua.” Jendral tertawa pelan, namun Nadarga tetap dengan reaksi datarnya membuatkan senyumannya mati serta-merta.</p>

<p>“Kenapa gua yang harus ngelakuin itu duluan? <em>Why should I kiss you first when you’re the one who want me?”</em> Sepasang netra mereka bertatapan lama, kemudian Jendral menelan liurnya bersusah payah.</p>

<p><em>God, have mercy..</em></p>

<p><em>“Come here.</em> Kenapa liatin gua segitunya?” Bagai terhipnotis buat kesekian kalinya. Jendral maju mendekat, tidak lupa ponselnya yang sedari tadi menyala dibalik tas laptopnya merekam perilakunya.</p>

<p><em>Dia ga boleh gagal.</em></p>

<p>Jarak keduanya semakin menipis. Dengan pergerakan yang sedikit canggung, Jendral meletakkan tangan kanannya pada pinggang Nadarga, manakala tangan kirinya menyentuh pipi pemuda itu.</p>

<p>“Lo cantik banget” Bisiknya pelan pada Nadarga. Kemudian, Nadarga memegang pergelangan tangan Jendral yang menyentuh wajahnya, ditahan, kemudian telapak tangan Jendral dikecup pelan.</p>

<p><em>“The mole under your eye looks beautiful”</em></p>

<p>Ujar pemuda berkelahiran Agustus itu lalu memejamkan kedua matanya ketika wajah Jendral mendekat. Benar, rasa hangat menjalar pada sekujur tubuhnya ketika bibir mereka menyatu.</p>

<p>Jendral turut menutup kedua netranya ketika Nadarga membalas ciumannya. <em>Both are the good kisser,</em> keduanya kelihatan lihai dan berpengalaman ketika melakukannya.</p>

<p>Saling beradu lidah, dan sama-sama bisa mengatur napas. Jendral refleks membuka kedua matanya apabila lidah Nadarga hampir menyentuh hujung isi mulutnya. Nadarga bukan sekedar menciumnya, tapi benar benar mengabsen seisi mulut Jendral dengan lidahnya.</p>

<p>Sama sama saling tak mahu mengalah, Nadarga membawa tangannya menyentuh belakang tengkuk Jendral, menekannya lebih dalam agar dapat memperdalam ciuman mereka.</p>

<p>Tangan Jendral yang memegang pinggang Nadarga mulai naik meremat bahunya, dia mulai kehabisan napas, saliva tak berhenti mengalir melalui dagunya. Nadarga malah semakin gencar menciumnya, sempat menggigit hujung lidahnya membuatkan Jendral terpekik pelan sehingga ciuman mereka terputus.</p>

<p>Jendral mengundur beberapa langkah, bahagian mulut dan dahunya di kesat dengan bajunya. Napasnya terburu, dia menjelirkan lidahnya, menyentuh hujungya pada jarinya, dan benar ada darah disana.</p>

<p><em>“Shit”</em></p>

<p>Jendral melihat ke arah Nadarga yang juga barusan mengesat bibir dengan lengannya sendiri. Ada kesan luka pada bibirnya. Jendral yang mengigitnya barusan di sela ciuman mereka yang mulai mengganas.</p>

<p>Nadarga tersenyum lebar, wajahnya menunjukkan reaksi kaget. Dia juga beneran tak menyangka bahwa Jendral juga bisa dalam perihal ini.</p>

<p><em>“Woah, you’re such a good kisser”</em></p>

<p>Jendral mengatur napasnya. “Jadi, sebelumnya lo ngeremehin gua ceritanya?” Nadarga hanya tertawa pelan sebagai jawaban.</p>

<p><em><strong>Finally. He made it.</strong></em></p>

<p><em><strong>Dan sialnya dia malah candu.</strong></em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://kaiserwriting.writeas.com/demi-iphone-ii-h3rg</guid>
      <pubDate>Wed, 10 May 2023 08:51:35 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Demi Iphone II</title>
      <link>https://kaiserwriting.writeas.com/demi-iphone-ii?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Demi Iphone II]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><em>Demi Iphone II</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://kaiserwriting.writeas.com/demi-iphone-ii</guid>
      <pubDate>Wed, 10 May 2023 07:59:17 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Hujan</title>
      <link>https://kaiserwriting.writeas.com/hujan?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Hujan&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><em>Hujan</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://kaiserwriting.writeas.com/hujan</guid>
      <pubDate>Sat, 06 May 2023 13:40:46 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Demi Iphone</title>
      <link>https://kaiserwriting.writeas.com/demi-iphone-xkhx?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Demi Iphone&#xA;&#xA;Sialan..&#xA;&#xA;Kini, Jendral berkali-kali menggerakkan kaki kirinya, menekan hujung kakinya di lantai dah membiarkan tumit kakinya bergerak pantas ke atas dan ke bawah. Demi Tuhan, setelah membaca tantangan konyol dari Cakrawala —sahabatnya yang kaya raya itu barusan— membuatkan degupan jantungnya berdetak tak karuan. Nadarga yang kini sedang mendudukkan diri di hadapannya, yakni entitas itu sedang fokus dengan meeting online yang dia katakan. Mereka berdua masih di meja makan, soalnya cuman disini tempat yang lebih nyaman. &#xA;&#xA;Lagipula unit apartment yang Nadarga tinggal ini ga ada pemisahnya. Masuk aja udah langsung ketemu kulkas di samping. Ada kompor listrik dan didepannya meja makan. Jauhan dikit dari meja makan ada sofa yang ukurannya lumayan gede dan televisi yang tergantung rapih.   &#xA;&#xA;Jendral juga sedang dengan laptopnya. Buat pertemuan pertama ini, Nadarga hanya memberi topik debat yang berkemungkinan besar akan berlaku pada hari kejadian nanti. Sekaligus dia harus memutar video debat internasional yang telah dimenangkan Nadarga di Washington dua tahun yang lalu. Bodohnya, Jendral hanya fokus pada Nadarga selama di dalam video itu, bagaimana pemuda itu berkali-kali meraup surai legamnya kebelakang sambil memegang pensil dan sebelah tangannya memegang kertas.&#xA;&#xA;Kedua keningnya menekuk, wajahnya tampak fokus dan lebih serius disitu, Jendral meneguk ludahnya sendiri. Nadarga di dalam ini terlihat benar-benar seperti bukan Nadarga di hadapannya sekarang. Bagaimana intonasi suaranya lantang membalas dan memutar semula fakta yang telah di lontarkan oleh pihak lawannya.&#xA;&#xA;Kali ini sepasang netra nya mencuri-curi lihat ke arah Nadarga yang sedang memakai headset, dia fokus melihat ke arah skrin laptopnya. Sesekali merespons pertanyaan dosennya dengan baik. Bener kata Jiandra, Nadarga ini anaknya pinter banget, bodohnya Jendral baru menyadari itu membuatkan dirinya merasa kecil disampingnya sekarang. &#xA;&#xA;“Kenapa?” Jendral yang tidak sadar ngelamun memandang ke arah laptop Nadarga barusan langsung membawa sepasang maniknya melihat ke arah pemuda Leo itu. Nadarga menarik sebelah headset nya, memandang wajah Jendral lama menantikan jawaban daripada belahan bibir pemuda itu. Kemudian, Jendral menggeleng pelan, “Bosen” Jawabnya hanya dengan menggerakkan bibir. Dia tau Nadarga masih di dalam online meetingnya.&#xA;&#xA;Nadarga tersenyum nipis. Jendral pula terpana buat keberapa kali nya buat hari ini. “Sebentar, habis ini kita makan siang bareng, ya?” Nadarga berujar pelan. Jam di skrin laptopnya di lihat sebentar, “Lagi setengah jam” Sambungnya lagi lalu kembali fokus pada kelasnya. Jendral menghela napasnya pelan, video yang masih berputar pada laptop nya di jeda. Lagipula sudah dua kali dia memutar ulang video itu.&#xA;&#xA;Earphone nya di buka. Sepasang netranya meliar memandang setiap sudut minim rumah Nadarga dengan teliti. Setiap rumahnya lebih dominan dengan warna putih. Kini atensi nya pada Nadarga kembali, bagaimana surai pirang itu sudah tidak rapih lagi seperti tadi. Beracakan naik ke atas karena ulah headset yang dipakenya. &#xA;&#xA;Akhirnya setelah setengah jam menunggu, Jendral mendengar Nadarga mengucapkan terima kasih sebelum laptopnya di tutup. Nadarga berdiri dari duduknya, membereskan helaian kertas yang sempat dicatatnya barusan. Kemudian laptopnya dimasukin ke dalam tas. Begitu juga Jendral, dia melakukan hal yang sama. &#xA;&#xA;“Gimana? Udah ngerti?” Nadarga melihat ke arah sosok pemuda di hadapannya, kemudian yang lebih muda mengangguk. “Udah, baru pertama kali liat gimana acara lomba debat berlangsung walaupun di dalam rekaman video doang. Keren banget ya, kok gua mendadak insecure?” Iya, tidak lupa juga bagaimana Jendral yang masih tak habis mengutuk dirinya sendiri yang memilih ikutan lomba debat untuk lebih dekat dengan Nadarga.&#xA;&#xA;Tapi jika dipikir-pikir, dia tak akan bisa sampai ke sini, ke dalam rumahnya Nadarga jika bukan karena lomba debat. &#xA;&#xA;“Gapapa, nanti pas luang bisa ketemuan lagi buat bahas. Nanti gua jelasin lagi di chat, atau sesekali bisa video call buat soal jawab beberapa hal yang lo ga ngerti. Soalnya disuruh sama bokap lo, that means he put high expectations on you. Gua bakal bantu sehabis yang bisa.”&#xA;&#xA;Pemuda Leo itu berganjak pergi dari situ dan masuk ke kamarnya untuk menaroh barangnya disana. Kemudian, dia keluar lalu menyisir rambut nya kebelakang dengan jarinya, menarik lengan baju yang dipakenya sehingga ke paras siku, menampakkan urat-urat bahkan otot tangannya yang menonjol.&#xA;&#xA;“Lo ngegame, atau ngapain dulu sana. Gua mau masak buat makan siang bentar.”&#xA;&#xA;“Lo bisa masak?”&#xA;&#xA;Nadarga terkekeh pelan mendengar pertanyaan Jendral barusan. Dia mendekati wastafel, mencuci tangan sebelum membuka pintu kulkasnya. &#xA;&#xA;“Iyalah, terus gimana caranya gua bisa tinggal sendirian disini.”&#xA;&#xA;Daripada menghabiskan waktu dengan permainan videonya, Jendral memilih untuk berjalan mendekati Nadarga yang sedang menjongkok mengeluarkan beberapa bahan masakan di dalam kulkas. Pemuda itu melihat ke atas apabila sadar Jendral berdiri di sampingnya, bersandar pada pinggiran kompor listrik itu.  &#xA;&#xA;“Kenapa?” Nadarga menaikkan sebelah alisnya, hanya fokus mengeluarkan bahan sehingga pergerakannya terhenti mendengar kata-kata yang dilontarkan Jendral padanya. &#xA;&#xA;“Engga. Liatin lo make baju yang ada lehernya itu keinget sama diri gua sendiri. Kalau habis spending a whole night with someone, besok nya malah ada kelas, gua pasti make yang kayak gituan.”&#xA;&#xA;Nadarga sempet menggelengkan kepalanya pelan sebelum berdiri. Menutup pintu kulkas itu kembali dan menyusun semua sayuran dan bahan lainnya di sebelah wastafel. Dia terkekeh pelan, kedua tangannya diletakkan pada hujung wastafel itu. &#xA;&#xA;“Terus, lo mikirnya semalem gua tidur sama orang tuh?” Nadarga melihat lurus ke arah dinding putih di hadapannya. Reaksi wajahnya berganti datar. Ga heran pertanyaan itu keluar daripada Jendral, lagipula hal ini sudah menyebar sehingga ke base kampus. &#xA;&#xA;“Haha, gua penasaran aja sih. Katanya cowok, ya?” Jendral memeluk tubuhnya sendiri. Memandang punggung Nadarga. Sebenarnya Jendral sendiri tak menyangka jika tubuh Nadarga itu segede ini. Bahkan lebih gede darinya yang bisa terbilang kurus. &#xA;&#xA;Kini Nadarga memusingkan tubuhnya, bersandar pada samping wastafel melihat lekat ke arah Jendral yang juga memandang ke arahnya. Mata mereka bertaut lama, tak ada tanda tanda bahwa salah satu daripada mereka ingin melarikan pandangan. &#xA;&#xA;Lalu Nadarga menarik sendiri bahan kain yang menutupi lehernya ke bawah. Menampakkan sebahagian lehernya yang ada kesan merah disitu. Jendral menelan ludahnya bersusah payah. Baru dibuka sedikit udah kelihatan segitunya. &#xA;&#xA;“Lo penasaran, nih? Ya udah.”&#xA;&#xA;Tidak diduga sama sekali bahwa Nadarga benar-benar membuka turtleneck hitam yang dipakenya. Menunjukkan tubuhnya, bahkan lengan ototnya yang gede, membuatkan sepasang mata sipit Jendral terbuka luas. Bagaimana dada pemuda itu benar benar banyak kesan cakaran, lehernya penuh kesan merah. &#xA;&#xA;Nadarga melemparkan baju nya ke atas meja yang mereka dudukin tadi. Kedua sudut bibirnya dinaikkan membentuk sebuah senyuman, namun kali ini bukan sebuah senyuman hangat, melainkan sebuah seringai halus. Pemuda Leo itu mendekat, namun Jendral tetap di posisinya, sehingga mereka berdiri berhadapan sekarang. &#xA;&#xA;“Di twitter, bahkan semua orang ngira kalau gua sama Jeff cuman making out. Lo mau tau ga, sebenarnya kita ngapain?” Wajahnya didekatkan, hanya menyisakan jarak yang tipis antara keduanya. ”We having sex, I make him spread his damn leg for me.” &#xA;&#xA;Setelah mengucapkan itu, Nadarga menjauhkan tubuhnya, membelakangi Jendral karena ingin melanjutkan kegiatannya untuk mencuci sayuran di wastafel. Jendral pula melihat punggung tubuhnya yang mempunyai banyak kesan cakaran melintang disitu. He&#39;s really the type who likes to play rough, huh?&#xA;&#xA;“Jadi, sama cewek bisa, sama cowok juga lo bisa nih?” Pertanyaan Jendral barusan membuatkan Nadarga tertawa, dia mengadah ke atas. Kemudian memusingkan tubuhnya sedikit melihat ke arah Jendral yang masih melihat ke arahnya. &#xA;&#xA;“Menurut lo?”&#xA;&#xA;“Kiss me, then.”&#xA;&#xA;Nadarga tak salah dengar, kan? &#xA;&#xA;“Come again?”&#xA;&#xA;“Kiss me. Kalau lo bisa having sex sesama cowok. Masa sekedar ciuman aja ga bisa? Sebenarnya gua kurang percaya sih, gimana bisa lo bikin bang Jeff di pihak menerima? We all know, dia itu ceweknya banyak, gonta ganti mulu kayak ganti baju.”&#xA;&#xA;He.. broke the rules again..&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><strong>Demi Iphone</strong></p>

<p><em>Sialan..</em></p>

<p>Kini, Jendral berkali-kali menggerakkan kaki kirinya, menekan hujung kakinya di lantai dah membiarkan tumit kakinya bergerak pantas ke atas dan ke bawah. Demi Tuhan, setelah membaca tantangan konyol dari Cakrawala —sahabatnya yang kaya raya itu barusan— membuatkan degupan jantungnya berdetak tak karuan. Nadarga yang kini sedang mendudukkan diri di hadapannya, yakni entitas itu sedang fokus dengan <em>meeting online</em> yang dia katakan. Mereka berdua masih di meja makan, soalnya cuman disini tempat yang lebih nyaman.</p>

<p>Lagipula unit apartment yang Nadarga tinggal ini ga ada pemisahnya. Masuk aja udah langsung ketemu kulkas di samping. Ada kompor listrik dan didepannya meja makan. Jauhan dikit dari meja makan ada sofa yang ukurannya lumayan gede dan televisi yang tergantung rapih.</p>

<p>Jendral juga sedang dengan laptopnya. Buat pertemuan pertama ini, Nadarga hanya memberi topik debat yang berkemungkinan besar akan berlaku pada hari kejadian nanti. Sekaligus dia harus memutar video debat internasional yang telah dimenangkan Nadarga di Washington dua tahun yang lalu. Bodohnya, Jendral hanya fokus pada Nadarga selama di dalam video itu, bagaimana pemuda itu berkali-kali meraup surai legamnya kebelakang sambil memegang pensil dan sebelah tangannya memegang kertas.</p>

<p>Kedua keningnya menekuk, wajahnya tampak fokus dan lebih serius disitu, Jendral meneguk ludahnya sendiri. Nadarga di dalam ini terlihat benar-benar seperti bukan Nadarga di hadapannya sekarang. Bagaimana intonasi suaranya lantang membalas dan memutar semula fakta yang telah di lontarkan oleh pihak lawannya.</p>

<p>Kali ini sepasang netra nya mencuri-curi lihat ke arah Nadarga yang sedang memakai <em>headset</em>, dia fokus melihat ke arah skrin laptopnya. Sesekali merespons pertanyaan dosennya dengan baik. Bener kata Jiandra, Nadarga ini anaknya pinter banget, bodohnya Jendral baru menyadari itu membuatkan dirinya merasa <em>kecil</em> disampingnya sekarang.</p>

<p>“Kenapa?” Jendral yang tidak sadar ngelamun memandang ke arah laptop Nadarga barusan langsung membawa sepasang maniknya melihat ke arah pemuda Leo itu. Nadarga menarik sebelah <em>headset</em> nya, memandang wajah Jendral lama menantikan jawaban daripada belahan bibir pemuda itu. Kemudian, Jendral menggeleng pelan, “Bosen” Jawabnya hanya dengan menggerakkan bibir. Dia tau Nadarga masih di dalam <em>online meeting</em>nya.</p>

<p>Nadarga tersenyum nipis. Jendral pula terpana buat keberapa kali nya buat hari ini. “Sebentar, habis ini kita makan siang bareng, ya?” Nadarga berujar pelan. Jam di skrin laptopnya di lihat sebentar, “Lagi setengah jam” Sambungnya lagi lalu kembali fokus pada kelasnya. Jendral menghela napasnya pelan, video yang masih berputar pada laptop nya di jeda. Lagipula sudah dua kali dia memutar ulang video itu.</p>

<p><em>Earphone</em> nya di buka. Sepasang netranya meliar memandang setiap sudut minim rumah Nadarga dengan teliti. Setiap rumahnya lebih dominan dengan warna putih. Kini atensi nya pada Nadarga kembali, bagaimana surai pirang itu sudah tidak rapih lagi seperti tadi. Beracakan naik ke atas karena ulah <em>headset</em> yang dipakenya.</p>

<p>Akhirnya setelah setengah jam menunggu, Jendral mendengar Nadarga mengucapkan terima kasih sebelum laptopnya di tutup. Nadarga berdiri dari duduknya, membereskan helaian kertas yang sempat dicatatnya barusan. Kemudian laptopnya dimasukin ke dalam tas. Begitu juga Jendral, dia melakukan hal yang sama.</p>

<p>“Gimana? Udah ngerti?” Nadarga melihat ke arah sosok pemuda di hadapannya, kemudian yang lebih muda mengangguk. “Udah, baru pertama kali liat gimana acara lomba debat berlangsung walaupun di dalam rekaman video doang. Keren banget ya, kok gua mendadak <em>insecure?”</em> Iya, tidak lupa juga bagaimana Jendral yang masih tak habis mengutuk dirinya sendiri yang memilih ikutan lomba debat untuk lebih dekat dengan Nadarga.</p>

<p>Tapi jika dipikir-pikir, dia tak akan bisa sampai ke sini, ke dalam rumahnya Nadarga jika bukan karena lomba debat.</p>

<p>“Gapapa, nanti pas luang bisa ketemuan lagi buat bahas. Nanti gua jelasin lagi di <em>chat</em>, atau sesekali bisa video <em>call</em> buat soal jawab beberapa hal yang lo ga ngerti. Soalnya disuruh sama bokap lo, <em>that means he put high expectations on you.</em> Gua bakal bantu sehabis yang bisa.”</p>

<p>Pemuda Leo itu berganjak pergi dari situ dan masuk ke kamarnya untuk menaroh barangnya disana. Kemudian, dia keluar lalu menyisir rambut nya kebelakang dengan jarinya, menarik lengan baju yang dipakenya sehingga ke paras siku, menampakkan urat-urat bahkan otot tangannya yang menonjol.</p>

<p>“Lo ngegame, atau ngapain dulu sana. Gua mau masak buat makan siang bentar.”</p>

<p>“Lo bisa masak?”</p>

<p>Nadarga terkekeh pelan mendengar pertanyaan Jendral barusan. Dia mendekati wastafel, mencuci tangan sebelum membuka pintu kulkasnya.</p>

<p>“Iyalah, terus gimana caranya gua bisa tinggal sendirian disini.”</p>

<p>Daripada menghabiskan waktu dengan permainan videonya, Jendral memilih untuk berjalan mendekati Nadarga yang sedang menjongkok mengeluarkan beberapa bahan masakan di dalam kulkas. Pemuda itu melihat ke atas apabila sadar Jendral berdiri di sampingnya, bersandar pada pinggiran kompor listrik itu.</p>

<p>“Kenapa?” Nadarga menaikkan sebelah alisnya, hanya fokus mengeluarkan bahan sehingga pergerakannya terhenti mendengar kata-kata yang dilontarkan Jendral padanya.</p>

<p>“Engga. Liatin lo make baju yang ada lehernya itu keinget sama diri gua sendiri. Kalau habis <em>spending a whole night with someone,</em> besok nya malah ada kelas, gua pasti make yang kayak gituan.”</p>

<p>Nadarga sempet menggelengkan kepalanya pelan sebelum berdiri. Menutup pintu kulkas itu kembali dan menyusun semua sayuran dan bahan lainnya di sebelah wastafel. Dia terkekeh pelan, kedua tangannya diletakkan pada hujung wastafel itu.</p>

<p>“Terus, lo mikirnya semalem gua tidur sama orang tuh?” Nadarga melihat lurus ke arah dinding putih di hadapannya. Reaksi wajahnya berganti datar. Ga heran pertanyaan itu keluar daripada Jendral, lagipula hal ini sudah menyebar sehingga ke base kampus.</p>

<p>“Haha, gua penasaran aja sih. Katanya cowok, ya?” Jendral memeluk tubuhnya sendiri. Memandang punggung Nadarga. Sebenarnya Jendral sendiri tak menyangka jika tubuh Nadarga itu segede ini. Bahkan lebih gede darinya yang bisa terbilang kurus.</p>

<p>Kini Nadarga memusingkan tubuhnya, bersandar pada samping wastafel melihat lekat ke arah Jendral yang juga memandang ke arahnya. Mata mereka bertaut lama, tak ada tanda tanda bahwa salah satu daripada mereka ingin melarikan pandangan.</p>

<p>Lalu Nadarga menarik sendiri bahan kain yang menutupi lehernya ke bawah. Menampakkan sebahagian lehernya yang ada kesan merah disitu. Jendral menelan ludahnya bersusah payah. Baru dibuka sedikit udah kelihatan segitunya.</p>

<p>“Lo penasaran, nih? Ya udah.”</p>

<p>Tidak diduga sama sekali bahwa Nadarga benar-benar membuka <em>turtleneck</em> hitam yang dipakenya. Menunjukkan tubuhnya, bahkan lengan ototnya yang gede, membuatkan sepasang mata sipit Jendral terbuka luas. Bagaimana dada pemuda itu benar benar banyak kesan cakaran, lehernya penuh kesan merah.</p>

<p>Nadarga melemparkan baju nya ke atas meja yang mereka dudukin tadi. Kedua sudut bibirnya dinaikkan membentuk sebuah senyuman, namun kali ini bukan sebuah senyuman hangat, melainkan sebuah seringai halus. Pemuda Leo itu mendekat, namun Jendral tetap di posisinya, sehingga mereka berdiri berhadapan sekarang.</p>

<p>“Di twitter, bahkan semua orang ngira kalau gua sama Jeff cuman <em>making out.</em> Lo mau tau ga, sebenarnya kita ngapain?” Wajahnya didekatkan, hanya menyisakan jarak yang tipis antara keduanya. <em>”We having sex, I make him spread his damn leg for me.”</em></p>

<p>Setelah mengucapkan itu, Nadarga menjauhkan tubuhnya, membelakangi Jendral karena ingin melanjutkan kegiatannya untuk mencuci sayuran di wastafel. Jendral pula melihat punggung tubuhnya yang mempunyai banyak kesan cakaran melintang disitu. <em>He&#39;s really the type who likes to play rough, huh?</em></p>

<p>“Jadi, sama cewek bisa, sama cowok juga lo bisa nih?” Pertanyaan Jendral barusan membuatkan Nadarga tertawa, dia mengadah ke atas. Kemudian memusingkan tubuhnya sedikit melihat ke arah Jendral yang masih melihat ke arahnya.</p>

<p>“Menurut lo?”</p>

<p><em>“Kiss me, then.”</em></p>

<p>Nadarga tak salah dengar, kan?</p>

<p><em>“Come again?”</em></p>

<p><em>“Kiss me.</em> Kalau lo bisa <em>having sex</em> sesama cowok. Masa sekedar ciuman aja ga bisa? Sebenarnya gua kurang percaya sih, gimana bisa lo bikin bang Jeff di pihak menerima? <em>We all know,</em> dia itu ceweknya banyak, gonta ganti mulu kayak ganti baju.”</p>

<p><strong><em>He.. broke the rules again..</em></strong></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://kaiserwriting.writeas.com/demi-iphone-xkhx</guid>
      <pubDate>Thu, 04 May 2023 07:27:00 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Demi Iphone</title>
      <link>https://kaiserwriting.writeas.com/demi-iphone-rg10?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Demi Iphone&#xA;&#xA;Sialan..&#xA;&#xA;Kini, Jendral berkali-kali menggerakkan kaki kirinya, menekan hujung kakinya di lantai dah membiarkan tumit kakinya bergerak pantas ke atas dan ke bawah. Demi Tuhan, setelah membaca tantangan konyol dari Cakrawala —sahabatnya yang kaya raya itu barusan— membuatkan degupan jantungnya berdetak tak karuan. Nadarga yang kini sedang mendudukkan diri di hadapannya, yakni entitas itu sedang fokus dengan meeting online yang dia katakan. Mereka berdua masih di meja makan, soalnya cuman disini tempat yang lebih nyaman. &#xA;&#xA;Lagipula unit apartment yang Nadarga tinggal ini ga ada pemisahnya. Masuk aja udah langsung ketemu kulkas di samping. Ada kompor listrik dan didepannya meja makan. Jauhan diri dari meja makan ada sofa yang ukurannya lumayan gede dan televisi yang tergantung rapih.   &#xA;&#xA;Jendral juga sedang dengan laptopnya. Buat pertemuan pertama ini, Nadarga hanya memberi topik debat yang berkemungkinan besar akan berlaku pada hari kejadian nanti. Sekaligus dia harus memutar video debat internasional yang telah dimenangkan Nadarga di Washington dua tahun yang lalu. Bodohnya, Jendral hanya fokus pada Nadarga selama di dalam video itu, bagaimana pemuda itu berkali-kali meraup surai legamnya kebelakang sambil memegang pensil dan sebelah tangannya memegang kertas.&#xA;&#xA;Kedua keningnya menekuk, wajahnya tampak fokus dan lebih serius disitu, Jendral meneguk ludahnya sendiri. Nadarga di dalam ini terlihat benar-benar seperti bukan Nadarga di hadapannya sekarang. Bagaimana intonasi suaranya lantang membalas dan memutar semula fakta yang telah di lontarkan oleh pihak lawannya.&#xA;&#xA;Kali ini sepasang netra nya mencuri-curi lihat ke arah Nadarga yang sedang memakai headset, dia fokus melihat ke arah skrin laptopnya. Sesekali merespons pertanyaan dosennya dengan baik. Bener kata Jiandra, Nadarga ini anaknya pinter banget, bodohnya Jendral baru menyadari itu membuatkan dirinya merasa kecil disampingnya sekarang. &#xA;&#xA;“Kenapa?” Jendral yang tidak sadar ngelamun memandang ke arah laptop Nadarga barusan langsung membawa sepasang maniknya melihat ke arah pemuda Leo itu. Nadarga menarik sebelah headset nya, memandang wajah Jendral lama menantikan jawaban daripada belahan bibir pemuda itu. Kemudian, Jendral menggeleng pelan, “Bosen” Jawabnya hanya dengan menggerakkan bibir. Dia tau Nadarga masih di dalam online meetingnya.&#xA;&#xA;Nadarga tersenyum nipis. Jendral pula terpana buat keberapa kali nya buat hari ini. “Sebentar, habis ini kita makan siang bareng, ya?” Nadarga berujar pelan. Jam di skrin laptopnya di lihat sebentar, “Lagi setengah jam” Sambungnya lagi lalu kembali fokus pada kelasnya. Jendral menghela napasnya pelan, video yang masih berputar pada laptop nya di jeda. Lagipula sudah dua kali dia memutar ulang video itu.&#xA;&#xA;Earphone nya di buka. Sepasang netranya meliar memandang setiap sudut minim rumah Nadarga dengan teliti. Setiap rumahnya lebih dominan dengan warna putih. Kini atensi nya pada Nadarga kembali, bagaimana surai pirang itu sudah tidak rapih lagi seperti tadi. Beracakan naik ke atas karena ulah headset yang dipakenya. &#xA;&#xA;Akhirnya setelah setengah jam menunggu, Jendral mendengar Nadarga mengucapkan terima kasih sebelum laptopnya di tutup. Nadarga berdiri dari duduknya, membereskan helaian kertas yang sempat dicatatnya barusan. Kemudian laptopnya dimasukin ke dalam tas. Begitu juga Jendral, dia melakukan hal yang sama. &#xA;&#xA;“Gimana? Udah ngerti?” Nadarga melihat ke arah sosok pemuda di hadapannya, kemudian yang lebih muda mengangguk. “Udah, baru pertama kali liat gimana acara lomba debat berlangsung walaupun di dalam rekaman video doang. Keren banget ya, kok gua mendadak insecure?” Iya, tidak lupa juga bagaimana Jendral yang masih tak habis mengutuk dirinya sendiri yang memilih ikutan lomba debat untuk lebih dekat dengan Nadarga.&#xA;&#xA;Tapi jika dipikir-pikir, dia tak akan bisa sampai ke sini, ke dalam rumahnya Nadarga jika bukan karena lomba debat. &#xA;&#xA;“Gapapa, nanti pas luang bisa ketemuan lagi buat bahas. Nanti gua jelasin lagi di chat, atau sesekali bisa video call buat soal jawab beberapa hal yang lo ga ngerti. Soalnya disuruh sama bokap lo, that means he put high expectations on you. Gua bakal bantu sehabis yang bisa.”&#xA;&#xA;Pemuda Leo itu berganjak pergi dari situ dan masuk ke kamarnya untuk menaroh barangnya disana. Kemudian, dia keluar lalu menyisir rambut nya kebelakang dengan jarinya, menarik lengan baju yang dipakenya sehingga ke paras siku, menampakkan urat-urat bahkan otot tangannya yang menonjol.&#xA;&#xA;“Lo ngegame, atau ngapain dulu sana. Gua mau masak buat makan siang bentar.”&#xA;&#xA;“Lo bisa masak?”&#xA;&#xA;Nadarga terkekeh pelan mendengar pertanyaan Jendral barusan. Dia mendekati wastafel, mencuci tangan sebelum membuka pintu kulkasnya. &#xA;&#xA;“Iyalah, terus gimana caranya gua bisa tinggal sendirian disini.”&#xA;&#xA;Daripada menghabiskan waktu dengan permainan videonya, Jendral memilih untuk berjalan mendekati Nadarga yang sedang menjongkok mengeluarkan beberapa bahan masakan di dalam kulkas. Pemuda itu melihat ke atas apabila sadar Jendral berdiri di sampingnya, bersandar pada pinggiran kompor listrik itu.  &#xA;&#xA;“Kenapa?” Nadarga menaikkan sebelah alisnya, hanya fokus mengeluarkan bahan sehingga pergerakannya terhenti mendengar kata-kata yang dilontarkan Jendral padanya. &#xA;&#xA;“Engga. Liatin lo make baju yang ada lehernya itu keinget sama diri gua sendiri. Kalau habis spending a whole night with someone, besok nya malah ada kelas, gua pasti make yang kayak gituan.”&#xA;&#xA;Nadarga sempet menggelengkan kepalanya pelan sebelum berdiri. Menutup pintu kulkas itu kembali dan menyusun semua sayuran dan bahan lainnya di sebelah wastafel. Dia terkekeh pelan, kedua tangannya diletakkan pada hujung wastafel itu. &#xA;&#xA;“Terus, lo mikirnya semalem gua tidur sama orang tuh?” Nadarga melihat lurus ke arah dinding putih di hadapannya. Reaksi wajahnya berganti datar. Ga heran pertanyaan itu keluar daripada Jendral, lagipula hal ini sudah menyebar sehingga ke base kampus. &#xA;&#xA;“Haha, gua penasaran aja sih. Katanya cowok, ya?” Jendral memeluk tubuhnya sendiri. Memandang punggung Nadarga. Sebenarnya Jendral sendiri tak menyangka jika tubuh Nadarga itu segede ini. Bahkan lebih gede darinya yang bisa terbilang kurus. &#xA;&#xA;Kini Nadarga memusingkan tubuhnya, bersandar pada samping wastafel melihat lekat ke arah Jendral yang juga memandang ke arahnya. Mata mereka bertaut lama, tak ada tanda tanda bahwa salah satu daripada mereka ingin melarikan pandangan. &#xA;&#xA;Lalu Nadarga menarik sendiri bahan kain yang menutupi lehernya ke bawah. Menampakkan sebahagian lehernya yang ada kesan merah disitu. Jendral menelan ludahnya bersusah payah. Baru dibuka sedikit udah kelihatan segitunya. &#xA;&#xA;“Lo penasaran, nih? Ya udah.”&#xA;&#xA;Tidak diduga sama sekali bahwa Nadarga benar-benar membuka turtleneck hitam yang dipakenya. Menunjukkan tubuhnya, bahkan lengan ototnya yang gede, membuatkan sepasang mata sipit Jendral terbuka luas. Bagaimana dada pemuda itu benar benar banyak kesan cakaran, lehernya penuh kesan merah. &#xA;&#xA;Nadarga melemparkan baju nya ke atas meja yang mereka dudukin tadi. Kedua sudut bibirnya dinaikkan membentuk sebuah senyuman, namun kali ini bukan sebuah senyuman hangat, melainkan sebuah seringai halus. Pemuda Leo itu mendekat, namun Jendral tetap di posisinya, sehingga mereka berdiri berhadapan sekarang. &#xA;&#xA;“Di twitter, bahkan semua orang ngira kalau gua sama Jeff cuman making out. Lo mau tau ga, sebenarnya kita ngapain?” Wajahnya didekatkan, hanya menyisakan jarak yang tipis antara keduanya. ”We having sex, I make him spread his damn leg for me.” &#xA;&#xA;Setelah mengucapkan itu, Nadarga menjauhkan tubuhnya, membelakangi Jendral karena ingin melanjutkan kegiatannya untuk mencuci sayuran di wastafel. Jendral pula melihat punggung tubuhnya yang mempunyai banyak kesan cakaran melintang disitu. He&#39;s really the type who likes to play rough, huh?&#xA;&#xA;“Jadi, sama cewek bisa, sama cowok juga lo bisa nih?” Pertanyaan Jendral barusan membuatkan Nadarga tertawa, dia mengadah ke atas. Kemudian memusingkan tubuhnya sedikit melihat ke arah Jendral yang masih melihat ke arahnya. &#xA;&#xA;“Menurut lo?”&#xA;&#xA;“Kiss me, then.”&#xA;&#xA;Nadarga tak salah dengar, kan? &#xA;&#xA;“Come again?”&#xA;&#xA;“Kiss me. Kalau lo bisa having sex sesama cowok. Masa sekedar ciuman aja ga bisa? Sebenarnya gua kurang percaya sih, gimana bisa lo bikin bang Jeff di pihak menerima? We all know, dia itu ceweknya banyak, gonta ganti mulu kayak ganti baju.”&#xA;&#xA;He.. broke the rules again..&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><strong>Demi Iphone</strong></p>

<p><em>Sialan..</em></p>

<p>Kini, Jendral berkali-kali menggerakkan kaki kirinya, menekan hujung kakinya di lantai dah membiarkan tumit kakinya bergerak pantas ke atas dan ke bawah. Demi Tuhan, setelah membaca tantangan konyol dari Cakrawala —sahabatnya yang kaya raya itu barusan— membuatkan degupan jantungnya berdetak tak karuan. Nadarga yang kini sedang mendudukkan diri di hadapannya, yakni entitas itu sedang fokus dengan <em>meeting online</em> yang dia katakan. Mereka berdua masih di meja makan, soalnya cuman disini tempat yang lebih nyaman.</p>

<p>Lagipula unit apartment yang Nadarga tinggal ini ga ada pemisahnya. Masuk aja udah langsung ketemu kulkas di samping. Ada kompor listrik dan didepannya meja makan. Jauhan diri dari meja makan ada sofa yang ukurannya lumayan gede dan televisi yang tergantung rapih.</p>

<p>Jendral juga sedang dengan laptopnya. Buat pertemuan pertama ini, Nadarga hanya memberi topik debat yang berkemungkinan besar akan berlaku pada hari kejadian nanti. Sekaligus dia harus memutar video debat internasional yang telah dimenangkan Nadarga di Washington dua tahun yang lalu. Bodohnya, Jendral hanya fokus pada Nadarga selama di dalam video itu, bagaimana pemuda itu berkali-kali meraup surai legamnya kebelakang sambil memegang pensil dan sebelah tangannya memegang kertas.</p>

<p>Kedua keningnya menekuk, wajahnya tampak fokus dan lebih serius disitu, Jendral meneguk ludahnya sendiri. Nadarga di dalam ini terlihat benar-benar seperti bukan Nadarga di hadapannya sekarang. Bagaimana intonasi suaranya lantang membalas dan memutar semula fakta yang telah di lontarkan oleh pihak lawannya.</p>

<p>Kali ini sepasang netra nya mencuri-curi lihat ke arah Nadarga yang sedang memakai <em>headset</em>, dia fokus melihat ke arah skrin laptopnya. Sesekali merespons pertanyaan dosennya dengan baik. Bener kata Jiandra, Nadarga ini anaknya pinter banget, bodohnya Jendral baru menyadari itu membuatkan dirinya merasa <em>kecil</em> disampingnya sekarang.</p>

<p>“Kenapa?” Jendral yang tidak sadar ngelamun memandang ke arah laptop Nadarga barusan langsung membawa sepasang maniknya melihat ke arah pemuda Leo itu. Nadarga menarik sebelah <em>headset</em> nya, memandang wajah Jendral lama menantikan jawaban daripada belahan bibir pemuda itu. Kemudian, Jendral menggeleng pelan, “Bosen” Jawabnya hanya dengan menggerakkan bibir. Dia tau Nadarga masih di dalam <em>online meeting</em>nya.</p>

<p>Nadarga tersenyum nipis. Jendral pula terpana buat keberapa kali nya buat hari ini. “Sebentar, habis ini kita makan siang bareng, ya?” Nadarga berujar pelan. Jam di skrin laptopnya di lihat sebentar, “Lagi setengah jam” Sambungnya lagi lalu kembali fokus pada kelasnya. Jendral menghela napasnya pelan, video yang masih berputar pada laptop nya di jeda. Lagipula sudah dua kali dia memutar ulang video itu.</p>

<p><em>Earphone</em> nya di buka. Sepasang netranya meliar memandang setiap sudut minim rumah Nadarga dengan teliti. Setiap rumahnya lebih dominan dengan warna putih. Kini atensi nya pada Nadarga kembali, bagaimana surai pirang itu sudah tidak rapih lagi seperti tadi. Beracakan naik ke atas karena ulah <em>headset</em> yang dipakenya.</p>

<p>Akhirnya setelah setengah jam menunggu, Jendral mendengar Nadarga mengucapkan terima kasih sebelum laptopnya di tutup. Nadarga berdiri dari duduknya, membereskan helaian kertas yang sempat dicatatnya barusan. Kemudian laptopnya dimasukin ke dalam tas. Begitu juga Jendral, dia melakukan hal yang sama.</p>

<p>“Gimana? Udah ngerti?” Nadarga melihat ke arah sosok pemuda di hadapannya, kemudian yang lebih muda mengangguk. “Udah, baru pertama kali liat gimana acara lomba debat berlangsung walaupun di dalam rekaman video doang. Keren banget ya, kok gua mendadak <em>insecure?”</em> Iya, tidak lupa juga bagaimana Jendral yang masih tak habis mengutuk dirinya sendiri yang memilih ikutan lomba debat untuk lebih dekat dengan Nadarga.</p>

<p>Tapi jika dipikir-pikir, dia tak akan bisa sampai ke sini, ke dalam rumahnya Nadarga jika bukan karena lomba debat.</p>

<p>“Gapapa, nanti pas luang bisa ketemuan lagi buat bahas. Nanti gua jelasin lagi di <em>chat</em>, atau sesekali bisa video <em>call</em> buat soal jawab beberapa hal yang lo ga ngerti. Soalnya disuruh sama bokap lo, <em>that means he put high expectations on you.</em> Gua bakal bantu sehabis yang bisa.”</p>

<p>Pemuda Leo itu berganjak pergi dari situ dan masuk ke kamarnya untuk menaroh barangnya disana. Kemudian, dia keluar lalu menyisir rambut nya kebelakang dengan jarinya, menarik lengan baju yang dipakenya sehingga ke paras siku, menampakkan urat-urat bahkan otot tangannya yang menonjol.</p>

<p>“Lo ngegame, atau ngapain dulu sana. Gua mau masak buat makan siang bentar.”</p>

<p>“Lo bisa masak?”</p>

<p>Nadarga terkekeh pelan mendengar pertanyaan Jendral barusan. Dia mendekati wastafel, mencuci tangan sebelum membuka pintu kulkasnya.</p>

<p>“Iyalah, terus gimana caranya gua bisa tinggal sendirian disini.”</p>

<p>Daripada menghabiskan waktu dengan permainan videonya, Jendral memilih untuk berjalan mendekati Nadarga yang sedang menjongkok mengeluarkan beberapa bahan masakan di dalam kulkas. Pemuda itu melihat ke atas apabila sadar Jendral berdiri di sampingnya, bersandar pada pinggiran kompor listrik itu.</p>

<p>“Kenapa?” Nadarga menaikkan sebelah alisnya, hanya fokus mengeluarkan bahan sehingga pergerakannya terhenti mendengar kata-kata yang dilontarkan Jendral padanya.</p>

<p>“Engga. Liatin lo make baju yang ada lehernya itu keinget sama diri gua sendiri. Kalau habis <em>spending a whole night with someone,</em> besok nya malah ada kelas, gua pasti make yang kayak gituan.”</p>

<p>Nadarga sempet menggelengkan kepalanya pelan sebelum berdiri. Menutup pintu kulkas itu kembali dan menyusun semua sayuran dan bahan lainnya di sebelah wastafel. Dia terkekeh pelan, kedua tangannya diletakkan pada hujung wastafel itu.</p>

<p>“Terus, lo mikirnya semalem gua tidur sama orang tuh?” Nadarga melihat lurus ke arah dinding putih di hadapannya. Reaksi wajahnya berganti datar. Ga heran pertanyaan itu keluar daripada Jendral, lagipula hal ini sudah menyebar sehingga ke base kampus.</p>

<p>“Haha, gua penasaran aja sih. Katanya cowok, ya?” Jendral memeluk tubuhnya sendiri. Memandang punggung Nadarga. Sebenarnya Jendral sendiri tak menyangka jika tubuh Nadarga itu segede ini. Bahkan lebih gede darinya yang bisa terbilang kurus.</p>

<p>Kini Nadarga memusingkan tubuhnya, bersandar pada samping wastafel melihat lekat ke arah Jendral yang juga memandang ke arahnya. Mata mereka bertaut lama, tak ada tanda tanda bahwa salah satu daripada mereka ingin melarikan pandangan.</p>

<p>Lalu Nadarga menarik sendiri bahan kain yang menutupi lehernya ke bawah. Menampakkan sebahagian lehernya yang ada kesan merah disitu. Jendral menelan ludahnya bersusah payah. Baru dibuka sedikit udah kelihatan segitunya.</p>

<p>“Lo penasaran, nih? Ya udah.”</p>

<p>Tidak diduga sama sekali bahwa Nadarga benar-benar membuka <em>turtleneck</em> hitam yang dipakenya. Menunjukkan tubuhnya, bahkan lengan ototnya yang gede, membuatkan sepasang mata sipit Jendral terbuka luas. Bagaimana dada pemuda itu benar benar banyak kesan cakaran, lehernya penuh kesan merah.</p>

<p>Nadarga melemparkan baju nya ke atas meja yang mereka dudukin tadi. Kedua sudut bibirnya dinaikkan membentuk sebuah senyuman, namun kali ini bukan sebuah senyuman hangat, melainkan sebuah seringai halus. Pemuda Leo itu mendekat, namun Jendral tetap di posisinya, sehingga mereka berdiri berhadapan sekarang.</p>

<p>“Di twitter, bahkan semua orang ngira kalau gua sama Jeff cuman <em>making out.</em> Lo mau tau ga, sebenarnya kita ngapain?” Wajahnya didekatkan, hanya menyisakan jarak yang tipis antara keduanya. <em>”We having sex, I make him spread his damn leg for me.”</em></p>

<p>Setelah mengucapkan itu, Nadarga menjauhkan tubuhnya, membelakangi Jendral karena ingin melanjutkan kegiatannya untuk mencuci sayuran di wastafel. Jendral pula melihat punggung tubuhnya yang mempunyai banyak kesan cakaran melintang disitu. <em>He&#39;s really the type who likes to play rough, huh?</em></p>

<p>“Jadi, sama cewek bisa, sama cowok juga lo bisa nih?” Pertanyaan Jendral barusan membuatkan Nadarga tertawa, dia mengadah ke atas. Kemudian memusingkan tubuhnya sedikit melihat ke arah Jendral yang masih melihat ke arahnya.</p>

<p>“Menurut lo?”</p>

<p><em>“Kiss me, then.”</em></p>

<p>Nadarga tak salah dengar, kan?</p>

<p><strong>“Come again?”</strong></p>

<p><em>“Kiss me.</em> Kalau lo bisa <em>having sex</em> sesama cowok. Masa sekedar ciuman aja ga bisa? Sebenarnya gua kurang percaya sih, gimana bisa lo bikin bang Jeff di pihak menerima? <em>We all know,</em> dia itu ceweknya banyak, gonta ganti mulu kayak ganti baju.”</p>

<p><strong><em>He.. broke the rules again..</em></strong></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://kaiserwriting.writeas.com/demi-iphone-rg10</guid>
      <pubDate>Thu, 04 May 2023 07:26:32 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Demi Iphone</title>
      <link>https://kaiserwriting.writeas.com/demi-iphone?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Demi Iphone&#xA;&#xA;Sialan..&#xA;&#xA;Kini, Jendral berkali-kali menggerakkan kaki kirinya, menekan hujung kakinya di lantai dah membiarkan tumit kakinya bergerak pantas ke atas dan ke bawah. Demi Tuhan, setelah membaca tantangan konyol dari Cakrawala —sahabatnya yang kaya raya itu barusan— membuatkan degupan jantungnya berdetak tak karuan. Nadarga yang kini sedang mendudukkan diri di hadapannya, yakni entitas itu sedang fokus dengan meeting online yang dia katakan. Mereka berdua masih di meja makan, soalnya cuman disini tempat yang lebih nyaman. &#xA;&#xA;Lagipula unit apartment yang Nadarga tinggal ini ga ada pemisahnya. Masuk aja udah langsung ketemu kulkas di samping. Ada kompor listrik dan didepannya meja makan. Jauhan diri dari meja makan ada sofa yang ukurannya lumayan gede dan televisi yang tergantung rapih.   &#xA;&#xA;Jendral juga sedang dengan laptopnya. Buat pertemuan pertama ini, Nadarga hanya memberi topik debat yang berkemungkinan besar akan berlaku pada hari kejadian nanti. Sekaligus dia harus memutar video debat internasional yang telah dimenangkan Nadarga di Washington dua tahun yang lalu. Bodohnya, Jendral hanya fokus pada Nadarga selama di dalam video itu, bagaimana pemuda itu berkali-kali meraup surai legamnya kebelakang sambil memegang pensil dan sebelah tangannya memegang kertas.&#xA;&#xA;Kedua keningnya menekuk, wajahnya tampak fokus dan lebih serius disitu, Jendral meneguk ludahnya sendiri. Nadarga di dalam ini terlihat benar-benar seperti bukan Nadarga di hadapannya sekarang. Bagaimana intonasi suaranya lantang membalas dan memutar semula fakta yang telah di lontarkan oleh pihak lawannya.&#xA;&#xA;Kali ini sepasang netra nya mencuri-curi lihat ke arah Nadarga yang sedang memakai headset, dia fokus melihat ke arah skrin laptopnya. Sesekali merespons pertanyaan dosennya dengan baik. Bener kata Jiandra, Nadarga ini anaknya pinter banget, bodohnya Jendral baru menyadari itu membuatkan dirinya merasa kecil disampingnya sekarang. &#xA;&#xA;“Kenapa?” Jendral yang tidak sadar ngelamun memandang ke arah laptop Nadarga barusan langsung membawa sepasang maniknya melihat ke arah pemuda Leo itu. Nadarga menarik sebelah headset nya, memandang wajah Jendral lama menantikan jawaban daripada belahan bibir pemuda itu. Kemudian, Jendral menggeleng pelan, “Bosen” Jawabnya hanya dengan menggerakkan bibir. Dia tau Nadarga masih di dalam online meeting nya.&#xA;&#xA;Nadarga tersenyum nipis. Jendral pula terpana buat keberapa kali nya buat hari ini. “Sebentar, habis ini kita makan siang bareng, ya?” Nadarga berujar pelan. Jam di skrin laptopnya di lihat sebentar, “Lagi setengah jam” Sambungnya lagi lalu kembali fokus pada kelasnya. Jendral menghela napasnya pelan, video yang masih berputar pada laptop nya di jeda. Lagipula sudah dua kali dia memutar ulang video itu.&#xA;&#xA;Earphone nya di buka. Sepasang netranya meliar memandang setiap sudut minim rumah Nadarga dengan teliti. Setiap rumahnya lebih dominan dengan warna putih. Kini atensi nya pada Nadarga kembali, bagaimana surai pirang itu sudah tidak rapih lagi seperti tadi. Beracakan naik ke atas karena ulah headset yang dipakenya. &#xA;&#xA;Akhirnya setelah setengah jam menunggu, Jendral mendengar Nadarga mengucapkan terima kasih sebelum laptopnya di tutup. Nadarga berdiri dari duduknya, membereskan helaian kertas yang sempat dicatatnya barusan. Kemudian laptopnya dimasukin ke dalam tas. Begitu juga Jendral, dia melakukan hal yang sama. &#xA;&#xA;“Gimana? Udah ngerti?” Nadarga melihat ke arah sosok pemuda di hadapannya, kemudian yang lebih muda mengangguk. “Udah, baru pertama kali liat gimana acara lomba debat berlangsung walaupun di dalam rekaman video doang. Keren banget ya, kok gua mendadak insecure?” Iya, tidak lupa juga bagaimana Jendral yang masih tak habis mengutuk dirinya sendiri yang memilih ikutan lomba debat untuk lebih dekat dengan Nadarga.&#xA;&#xA;Tapi jika dipikir-pikir, dia tak akan bisa sampai ke sini, ke dalam rumahnya Nadarga jika bukan karena lomba debat. &#xA;&#xA;“Gapapa, nanti pas luang bisa ketemuan lagi buat bahas. Nanti gua jelasin lagi di chat, atau sesekali bisa video call buat soal jawab beberapa hal yang lo ga ngerti. Soalnya disuruh sama bokap lo, that means he put high expectations on you. Gua bakal bantu sehabis yang bisa.”&#xA;&#xA;Pemuda Leo itu berganjak pergi dari situ dan masuk ke kamarnya untuk menaroh barangnya disana. Kemudian, dia keluar lalu menyisir rambut nya kebelakang dengan jarinya, menarik lengan baju yang dipakenya sehingga ke paras siku, menampakkan urat-urat bahkan otot tangannya yang menonjol.&#xA;&#xA;“Lo ngegame, atau ngapain dulu sana. Gua mau masak buat makan siang bentar.”&#xA;&#xA;“Lo bisa masak?”&#xA;&#xA;Nadarga terkekeh pelan mendengar pertanyaan Jendral barusan. Dia mendekati wastafel, mencuci tangan sebelum membuka pintu kulkasnya. &#xA;&#xA;“Iyalah, terus gimana caranya gua bisa tinggal sendirian disini.”&#xA;&#xA;Daripada menghabiskan waktu dengan permainan videonya, Jendral memilih untuk berjalan mendekati Nadarga yang sedang menjongkok mengeluarkan beberapa bahan masakan di dalam kulkas. Pemuda itu melihat ke atas apabila sadar Jendral berdiri di sampingnya, bersandar pada pinggiran kompor listrik itu.  &#xA;&#xA;“Kenapa?” Nadarga menaikkan sebelah alisnya, hanya fokus mengeluarkan bahan sehingga pergerakannya terhenti mendengar kata-kata yang dilontarkan Jendral padanya. &#xA;&#xA;“Engga. Liatin lo make baju yang ada lehernya itu keinget sama diri gua sendiri. Kalau habis spending a whole night with someone, besok nya malah ada kelas, gua pasti make yang kayak gituan.”&#xA;&#xA;Nadarga sempet menggelengkan kepalanya pelan sebelum berdiri. Menutup pintu kulkas itu kembali dan menyusun semua sayuran dan bahan lainnya di sebelah wastafel. Dia terkekeh pelan, kedua tangannya diletakkan pada hujung wastafel itu. &#xA;&#xA;“Terus, lo mikirnya semalem gua tidur sama orang tuh?” Nadarga melihat lurus ke arah dinding putih di hadapannya. Reaksi wajahnya berganti datar. Ga heran pertanyaan itu keluar daripada Jendral, lagipula hal ini sudah menyebar sehingga ke base kampus. &#xA;&#xA;“Haha, gua penasaran aja sih. Katanya cowok, ya?” Jendral memeluk tubuhnya sendiri. Memandang punggung Nadarga. Sebenarnya Jendral sendiri tak menyangka jika tubuh Nadarga itu segede ini. Bahkan lebih gede darinya yang bisa terbilang kurus. &#xA;&#xA;Kini Nadarga memusingkan tubuhnya, bersandar pada samping wastafel melihat lekat ke arah Jendral yang juga memandang ke arahnya. Mata mereka bertaut lama, tak ada tanda tanda bahwa salah satu daripada mereka ingin melarikan pandangan. &#xA;&#xA;Lalu Nadarga menarik sendiri bahan kain yang menutupi lehernya ke bawah. Menampakkan sebahagian lehernya yang ada kesan merah disitu. Jendral menelan ludahnya bersusah payah. Baru dibuka sedikit udah kelihatan segitunya. &#xA;&#xA;“Lo penasaran, nih? Ya udah.”&#xA;&#xA;Tidak diduga sama sekali bahwa Nadarga benar-benar membuka turtleneck hitam yang dipakenya. Menunjukkan tubuhnya, bahkan lengan ototnya yang gede, membuatkan sepasang mata sipit Jendral terbuka luas. Bagaimana dada pemuda itu benar benar banyak kesan cakaran, lehernya penuh kesan merah. &#xA;&#xA;Nadarga melemparkan baju nya ke atas meja yang mereka dudukin tadi. Kedua sudut bibirnya dinaikkan membentuk sebuah senyuman, namun kali ini bukan sebuah senyuman hangat, melainkan sebuah seringai halus. Pemuda Leo itu mendekat, namun Jendral tetap di posisinya, sehingga mereka berdiri berhadapan sekarang. &#xA;&#xA;“Di twitter, bahkan semua orang ngira kalau gua sama Jeff cuman making out. Lo mau tau ga, sebenarnya kita ngapain?” Wajahnya didekatkan, hanya menyisakan jarak yang tipis antara keduanya. ”We having sex, I make him spread his damn leg for me.” &#xA;&#xA;Setelah mengucapkan itu, Nadarga menjauhkan tubuhnya, membelakangi Jendral karena ingin melanjutkan kegiatannya untuk mencuci sayuran di wastafel. Jendral pula melihat punggung tubuhnya yang mempunyai banyak kesan cakaran melintang disitu. He&#39;s really the type who likes to play rough, huh?&#xA;&#xA;“Jadi, sama cewek bisa, sama cowok juga lo bisa nih?” Pertanyaan Jendral barusan membuatkan Nadarga tertawa, dia mengadah ke atas. Kemudian memusingkan tubuhnya sedikit melihat ke arah Jendral yang masih melihat ke arahnya. &#xA;&#xA;“Menurut lo?”&#xA;&#xA;“Kiss me, then.”&#xA;&#xA;Nadarga tak salah dengar, kan? &#xA;&#xA;“Come again?”&#xA;&#xA;“Kiss me. Kalau lo bisa having sex sesama cowok. Masa sekedar ciuman aja ga bisa? Sebenarnya gua kurang percaya sih, gimana bisa lo bikin bang Jeff di pihak menerima? We all know, dia itu ceweknya banyak, gonta ganti mulu kayak ganti baju.”&#xA;&#xA;He.. broke the rules again..&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><em>Demi Iphone</em></p>

<p><strong>Sialan..</strong></p>

<p>Kini, Jendral berkali-kali menggerakkan kaki kirinya, menekan hujung kakinya di lantai dah membiarkan tumit kakinya bergerak pantas ke atas dan ke bawah. Demi Tuhan, setelah membaca tantangan konyol dari Cakrawala —sahabatnya yang kaya raya itu barusan— membuatkan degupan jantungnya berdetak tak karuan. Nadarga yang kini sedang mendudukkan diri di hadapannya, yakni entitas itu sedang fokus dengan <strong>meeting online</strong> yang dia katakan. Mereka berdua masih di meja makan, soalnya cuman disini tempat yang lebih nyaman.</p>

<p>Lagipula unit apartment yang Nadarga tinggal ini ga ada pemisahnya. Masuk aja udah langsung ketemu kulkas di samping. Ada kompor listrik dan didepannya meja makan. Jauhan diri dari meja makan ada sofa yang ukurannya lumayan gede dan televisi yang tergantung rapih.</p>

<p>Jendral juga sedang dengan laptopnya. Buat pertemuan pertama ini, Nadarga hanya memberi topik debat yang berkemungkinan besar akan berlaku pada hari kejadian nanti. Sekaligus dia harus memutar video debat internasional yang telah dimenangkan Nadarga di Washington dua tahun yang lalu. Bodohnya, Jendral hanya fokus pada Nadarga selama di dalam video itu, bagaimana pemuda itu berkali-kali meraup surai legamnya kebelakang sambil memegang pensil dan sebelah tangannya memegang kertas.</p>

<p>Kedua keningnya menekuk, wajahnya tampak fokus dan lebih serius disitu, Jendral meneguk ludahnya sendiri. Nadarga di dalam ini terlihat benar-benar seperti bukan Nadarga di hadapannya sekarang. Bagaimana intonasi suaranya lantang membalas dan memutar semula fakta yang telah di lontarkan oleh pihak lawannya.</p>

<p>Kali ini sepasang netra nya mencuri-curi lihat ke arah Nadarga yang sedang memakai <strong>headset</strong>, dia fokus melihat ke arah skrin laptopnya. Sesekali merespons pertanyaan dosennya dengan baik. Bener kata Jiandra, Nadarga ini anaknya pinter banget, bodohnya Jendral baru menyadari itu membuatkan dirinya merasa <strong>kecil</strong> disampingnya sekarang.</p>

<p>“Kenapa?” Jendral yang tidak sadar ngelamun memandang ke arah laptop Nadarga barusan langsung membawa sepasang maniknya melihat ke arah pemuda Leo itu. Nadarga menarik sebelah <strong>headset</strong> nya, memandang wajah Jendral lama menantikan jawaban daripada belahan bibir pemuda itu. Kemudian, Jendral menggeleng pelan, “Bosen” Jawabnya hanya dengan menggerakkan bibir. Dia tau Nadarga masih di dalam <strong>online meeting</strong> nya.</p>

<p>Nadarga tersenyum nipis. Jendral pula terpana buat keberapa kali nya buat hari ini. “Sebentar, habis ini kita makan siang bareng, ya?” Nadarga berujar pelan. Jam di skrin laptopnya di lihat sebentar, “Lagi setengah jam” Sambungnya lagi lalu kembali fokus pada kelasnya. Jendral menghela napasnya pelan, video yang masih berputar pada laptop nya di jeda. Lagipula sudah dua kali dia memutar ulang video itu.</p>

<p><strong>Earphone</strong> nya di buka. Sepasang netranya meliar memandang setiap sudut minim rumah Nadarga dengan teliti. Setiap rumahnya lebih dominan dengan warna putih. Kini atensi nya pada Nadarga kembali, bagaimana surai pirang itu sudah tidak rapih lagi seperti tadi. Beracakan naik ke atas karena ulah <strong>headset</strong> yang dipakenya.</p>

<p>Akhirnya setelah setengah jam menunggu, Jendral mendengar Nadarga mengucapkan terima kasih sebelum laptopnya di tutup. Nadarga berdiri dari duduknya, membereskan helaian kertas yang sempat dicatatnya barusan. Kemudian laptopnya dimasukin ke dalam tas. Begitu juga Jendral, dia melakukan hal yang sama.</p>

<p>“Gimana? Udah ngerti?” Nadarga melihat ke arah sosok pemuda di hadapannya, kemudian yang lebih muda mengangguk. “Udah, baru pertama kali liat gimana acara lomba debat berlangsung walaupun di dalam rekaman video doang. Keren banget ya, kok gua mendadak <strong>insecure?”</strong> Iya, tidak lupa juga bagaimana Jendral yang masih tak habis mengutuk dirinya sendiri yang memilih ikutan lomba debat untuk lebih dekat dengan Nadarga.</p>

<p>Tapi jika dipikir-pikir, dia tak akan bisa sampai ke sini, ke dalam rumahnya Nadarga jika bukan karena lomba debat.</p>

<p>“Gapapa, nanti pas luang bisa ketemuan lagi buat bahas. Nanti gua jelasin lagi di <strong>chat</strong>, atau sesekali bisa video <strong>call</strong> buat soal jawab beberapa hal yang lo ga ngerti. Soalnya disuruh sama bokap lo, <strong>that means he put high expectations on you.</strong> Gua bakal bantu sehabis yang bisa.”</p>

<p>Pemuda Leo itu berganjak pergi dari situ dan masuk ke kamarnya untuk menaroh barangnya disana. Kemudian, dia keluar lalu menyisir rambut nya kebelakang dengan jarinya, menarik lengan baju yang dipakenya sehingga ke paras siku, menampakkan urat-urat bahkan otot tangannya yang menonjol.</p>

<p>“Lo ngegame, atau ngapain dulu sana. Gua mau masak buat makan siang bentar.”</p>

<p>“Lo bisa masak?”</p>

<p>Nadarga terkekeh pelan mendengar pertanyaan Jendral barusan. Dia mendekati wastafel, mencuci tangan sebelum membuka pintu kulkasnya.</p>

<p>“Iyalah, terus gimana caranya gua bisa tinggal sendirian disini.”</p>

<p>Daripada menghabiskan waktu dengan permainan videonya, Jendral memilih untuk berjalan mendekati Nadarga yang sedang menjongkok mengeluarkan beberapa bahan masakan di dalam kulkas. Pemuda itu melihat ke atas apabila sadar Jendral berdiri di sampingnya, bersandar pada pinggiran kompor listrik itu.</p>

<p>“Kenapa?” Nadarga menaikkan sebelah alisnya, hanya fokus mengeluarkan bahan sehingga pergerakannya terhenti mendengar kata-kata yang dilontarkan Jendral padanya.</p>

<p>“Engga. Liatin lo make baju yang ada lehernya itu keinget sama diri gua sendiri. Kalau habis <strong>spending a whole night with someone,</strong> besok nya malah ada kelas, gua pasti make yang kayak gituan.”</p>

<p>Nadarga sempet menggelengkan kepalanya pelan sebelum berdiri. Menutup pintu kulkas itu kembali dan menyusun semua sayuran dan bahan lainnya di sebelah wastafel. Dia terkekeh pelan, kedua tangannya diletakkan pada hujung wastafel itu.</p>

<p>“Terus, lo mikirnya semalem gua tidur sama orang tuh?” Nadarga melihat lurus ke arah dinding putih di hadapannya. Reaksi wajahnya berganti datar. Ga heran pertanyaan itu keluar daripada Jendral, lagipula hal ini sudah menyebar sehingga ke base kampus.</p>

<p>“Haha, gua penasaran aja sih. Katanya cowok, ya?” Jendral memeluk tubuhnya sendiri. Memandang punggung Nadarga. Sebenarnya Jendral sendiri tak menyangka jika tubuh Nadarga itu segede ini. Bahkan lebih gede darinya yang bisa terbilang kurus.</p>

<p>Kini Nadarga memusingkan tubuhnya, bersandar pada samping wastafel melihat lekat ke arah Jendral yang juga memandang ke arahnya. Mata mereka bertaut lama, tak ada tanda tanda bahwa salah satu daripada mereka ingin melarikan pandangan.</p>

<p>Lalu Nadarga menarik sendiri bahan kain yang menutupi lehernya ke bawah. Menampakkan sebahagian lehernya yang ada kesan merah disitu. Jendral menelan ludahnya bersusah payah. Baru dibuka sedikit udah kelihatan segitunya.</p>

<p>“Lo penasaran, nih? Ya udah.”</p>

<p>Tidak diduga sama sekali bahwa Nadarga benar-benar membuka <strong>turtleneck</strong> hitam yang dipakenya. Menunjukkan tubuhnya, bahkan lengan ototnya yang gede, membuatkan sepasang mata sipit Jendral terbuka luas. Bagaimana dada pemuda itu benar benar banyak kesan cakaran, lehernya penuh kesan merah.</p>

<p>Nadarga melemparkan baju nya ke atas meja yang mereka dudukin tadi. Kedua sudut bibirnya dinaikkan membentuk sebuah senyuman, namun kali ini bukan sebuah senyuman hangat, melainkan sebuah seringai halus. Pemuda Leo itu mendekat, namun Jendral tetap di posisinya, sehingga mereka berdiri berhadapan sekarang.</p>

<p>“Di twitter, bahkan semua orang ngira kalau gua sama Jeff cuman <strong>making out.</strong> Lo mau tau ga, sebenarnya kita ngapain?” Wajahnya didekatkan, hanya menyisakan jarak yang tipis antara keduanya. <strong>”We having sex, I make him spread his damn leg for me.”</strong></p>

<p>Setelah mengucapkan itu, Nadarga menjauhkan tubuhnya, membelakangi Jendral karena ingin melanjutkan kegiatannya untuk mencuci sayuran di wastafel. Jendral pula melihat punggung tubuhnya yang mempunyai banyak kesan cakaran melintang disitu. <strong>He&#39;s really the type who likes to play rough, huh?</strong></p>

<p>“Jadi, sama cewek bisa, sama cowok juga lo bisa nih?” Pertanyaan Jendral barusan membuatkan Nadarga tertawa, dia mengadah ke atas. Kemudian memusingkan tubuhnya sedikit melihat ke arah Jendral yang masih melihat ke arahnya.</p>

<p>“Menurut lo?”</p>

<p><strong>“Kiss me, then.”</strong></p>

<p>Nadarga tak salah dengar, kan?</p>

<p><strong>“Come again?”</strong></p>

<p><strong>“Kiss me.</strong> Kalau lo bisa <strong>having sex</strong> sesama cowok. Masa sekedar ciuman aja ga bisa? Sebenarnya gua kurang percaya sih, gimana bisa lo bikin bang Jeff di pihak menerima? <strong>We all know,</strong> dia itu ceweknya banyak, gonta ganti mulu kayak ganti baju.”</p>

<p><strong>He.. broke the rules again..</strong></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://kaiserwriting.writeas.com/demi-iphone</guid>
      <pubDate>Thu, 04 May 2023 07:24:34 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>UNIT D7</title>
      <link>https://kaiserwriting.writeas.com/unit-d7-7ks6?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[UNIT D7&#xA;&#xA;Setelah selesai memposting tweet terakhir barusan, Jendral langsung memasukkan ponsel ke dalam kantung celana jeans yang dipakenya. Nadarga yang sedang duduk langsung berdiri, kedua sudut bibirnya menaik membentuk sebuah senyuman nipis.&#xA;&#xA;“Gampang ga, nyari nya?” Pertanyaan pertama yang diajukan Nadarga padanya. Jendral pula langsung membuka hoodie yang membaluti tubuhnya sedari tadi, membiarkan hanya kaos hitam yang membaluti atasannya. “Gampang, cuman bikin stress gara-gara parkiran sama lobi nya kejauhan. Capek banget gua.” Jawabnya membuatkan Nadarga tertawa pelan. &#xA;&#xA;“Ya udah, ayo naik. Lo udah sarapan apa belum?” Kedua kaki nya melangkah menuju ke arah lift, sebelah tangannya mengeluarkan kartu akses bewarna putih di dalem kantung jaket denim nya. Manakala Jendral hanya mengikuti langkah lelaki itu sambil kedua netranya melihat sekeliling lobi tersebut. &#xA;&#xA;“Belum, orang gua aja bangun, siap-siap langsung ke sini”. Nadarga mengangguk, “Sarapan di rumah gua aja sekalian. Sambil nungguin gua kelar zoom. Oh iya, maaf ya, soalnya gua batalin janjiannya pas menit terakhir.” Nadarga memencet tombol lift nomer 12. Kartu akses nya didekatkan pada sensor lalu lift itu bergerak naik ke atas. &#xA;&#xA;“Santai aja sama gua. Lo juga kenapa sih hawanya panas gini enteng banget make ginian?” Akhirnya pertanyaan pertama ketika bertemu dengan Nadarga barusan akhirnya bebas juga melewati belahan bibirnya. Nadarga terdiam sebentar, kemudian dia menunduk, lalu tertawa lepas. &#xA;&#xA;“Aneh ya?”&#xA;&#xA;“Ya, aneh banget.”&#xA;&#xA;Pintu lift akhirnya terbuka setelah mereka nyampe di lantai 12. Sisa tawa pemuda bersurai pirang itu masih belum habis walaupun mereka sudah separuh jalan menuju ke unitnya. &#xA;&#xA;Jendral pula tak sadar bibirnya juga ikut tersenyum. Dia tidak menyangka, bahwa Nadarga memang secantik, seganteng ini jika sedang tertawa renyah. Apalagi karena candaannya barusan. Akhirnya mereka berdua berhenti di hadapan unit dipaling hujung. &#xA; &#xA;&#xA;“Ayo, masuk. Malah bengong”]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><strong>UNIT D7</strong></p>

<p>Setelah selesai memposting <em>tweet</em> terakhir barusan, Jendral langsung memasukkan ponsel ke dalam kantung celana jeans yang dipakenya. Nadarga yang sedang duduk langsung berdiri, kedua sudut bibirnya menaik membentuk sebuah senyuman nipis.</p>

<p>“Gampang ga, nyari nya?” Pertanyaan pertama yang diajukan Nadarga padanya. Jendral pula langsung membuka <em>hoodie</em> yang membaluti tubuhnya sedari tadi, membiarkan hanya kaos hitam yang membaluti atasannya. “Gampang, cuman bikin <em>stress</em> gara-gara parkiran sama lobi nya kejauhan. Capek banget gua.” Jawabnya membuatkan Nadarga tertawa pelan.</p>

<p>“Ya udah, ayo naik. Lo udah sarapan apa belum?” Kedua kaki nya melangkah menuju ke arah lift, sebelah tangannya mengeluarkan kartu akses bewarna putih di dalem kantung jaket denim nya. Manakala Jendral hanya mengikuti langkah lelaki itu sambil kedua netranya melihat sekeliling lobi tersebut.</p>

<p>“Belum, orang gua aja bangun, siap-siap langsung ke sini”. Nadarga mengangguk, “Sarapan di rumah gua aja sekalian. Sambil nungguin gua kelar <em>zoom.</em> Oh iya, maaf ya, soalnya gua batalin janjiannya pas menit terakhir.” Nadarga memencet tombol lift nomer 12. Kartu akses nya didekatkan pada sensor lalu lift itu bergerak naik ke atas.</p>

<p>“Santai aja sama gua. Lo juga kenapa sih hawanya panas gini enteng banget make ginian?” Akhirnya pertanyaan pertama ketika bertemu dengan Nadarga barusan akhirnya bebas juga melewati belahan bibirnya. Nadarga terdiam sebentar, kemudian dia menunduk, lalu tertawa lepas.</p>

<p>“Aneh ya?”</p>

<p>“Ya, aneh banget.”</p>

<p>Pintu lift akhirnya terbuka setelah mereka nyampe di lantai 12. Sisa tawa pemuda bersurai pirang itu masih belum habis walaupun mereka sudah separuh jalan menuju ke unitnya.</p>

<p>Jendral pula tak sadar bibirnya juga ikut tersenyum. Dia tidak menyangka, bahwa Nadarga memang <em>secantik, seganteng</em> ini jika sedang tertawa renyah. Apalagi karena candaannya barusan. Akhirnya mereka berdua berhenti di hadapan unit dipaling hujung.</p>

<p>“Ayo, masuk. Malah bengong”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://kaiserwriting.writeas.com/unit-d7-7ks6</guid>
      <pubDate>Tue, 02 May 2023 12:17:09 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>