Tantangan

Saat ini, Jendral menapak masuk lagi ke dalam unit apartemen Nadarga untuk kedua kalinya. Berbeda dengan pertemuan awal mereka, Jendral hari ini tidak membawa laptop atau alat tulis apapun.

“Laptop nya udah gua taroh di meja. Langsung aja di puter videonya. Lo mau minum apa?” Pertanyaan pertama Nadarga ketika dia menutup rapat pintu apartemen nya kembali. Nadarga memusingkan tubuhnya, menatap punggung tegap Jendral yang membelakanginya. Jendral menarik kerusi, kemudian mendudukkan dirinya.

“Ga usah, gua sebentar aja” Jendral memandang ke arah Nadarga yang berjalan ke arahnya. Pemuda itu mengenakan celana joging abu-abu dan kaos putih polos. Terlihat tampan walaupun jelas kelihatan raut wajahnya yang sedang kecapean.

Pemuda Agustus itu mengambil tempat di sebelah Jendral, memutarkan videonya langsung tanpa basa-basi. Sejujurnya dia cape banget hari ini, walaupun pulangnya cepet tapi jadwal mata kuliahnya mepet semua.

“Gua ke intinya aja. Mulai dari penilaian juri. Pertama, lo harus ngerti isi-isi argumen yang bakal tim lo tampilin. Tugas juri bakal menilai kekuatan argumen dari kedua tim. Kalau isi argumen lo lemah, lo ga bakalan bisa ngebantah isi argumen tim lawan lo. Ngerti?”

Refleks Jendral menganggukkan kepalanya berkali-kali. Kedua netranya tak lepas memandang ke arah Nadarga sedari tadi.

Cantik banget.

“Oh iya. Memangnya lo bisa hapalin semua nanti? I will never repeat the same damn thing again” Nadarga menggunakan sebelah tangannya menyangga pipi kanannya sendiri lalu melihat ke arah Jendral yang sama tidak mencatat apapun.

“Ya gapapa, asal gua ngerti”

“Banyak banget yang mau gua jelasin. Gua ga yakin lo bisa pertahanin perhatian lo seratus persen ke gua sampe ke poin terakhir” Nadarga jeda-in videonya sebentar. Kini atensinya penuh ke arah Jendral yang fokus melihat skrin laptopnya.

“Ya udah, kalau gua nya kelihatan lagi ga fokus tinggal dicium. Nanti pasti bisa fokus lagi” Dia terkekeh pelan pada akhir katanya, Nadarga pula menaikkan sebelah alisnya karena tak percaya dengan kata-katanya barusan.

“Lo lagi bercanda? Kalau iya, candaan lo ga lucu” Nadarga kini bersandar pada kerusinya, melihat sekilas adik tingkatnya itu lalu menggelengkan kepalanya pelan. “Enteng banget bilang gituan. Padahal lo sendiri tau kalau gua gay” Kini atensi Jendral pada Nadarga yang masih menatap wajahnya dari samping.

“Katanya deretan mantan lo cewe semua? Kok tiba-tiba come out ke gua kalau lo gay? Jangan bilang lo demen ya sama gua?”

Nadarga tertawa setelah mendengar apa yang dikatakan Jendral barusan. Tangannya di bawa ke belakang Jendral, dia meletakkan tangannya pada sandaran kerusi yang diduduki pemuda itu.

“Kalau gua demen beneran gimana?”

Jeda, Jendral menatap kaget ke arah Nadarga yang tersenyum penuh arti padanya. Setelah itu pemuda itu tertawa lepas, Nadarga menjauhkan dirinya kemudian menepuk pahanya berkali-kali.

“Kocak banget komuk lo barusan. Padahal gua lagi bercanda. Ya kali gua gay. Rumor gua sama Jeff itu ga bener. Gampang banget orang-orang pasa percaya yang gituan”

“Terus, all the hickeys, the scars?”

“Oh itu. Malemnya gua sempet ketemu sama partner one night stand gua. Catherine, satu angkatan sama lo”

Fuck? Catherine anak baik itu?

“Terus kenapa lo mau pas gua ngajakin ciuman, anjing?!”

Jendral menendang kuat kerusi yang diduduki Nadarga sehingga jarak mereka semakin menjauh. Pemuda Leo itu hanya tertawa, kemudian menyangga dagu nya kembali sambil melihat ke arah wajah Jendral yang mulai memerah.

“Penasaran aja, sama hadiah tantangan yang bakal lo dapet. Ternyata ponsel baru, lumayan lah. You have to say thanks to me.”

Jendral menegakkan duduknya. Kedua alisnya menekuk, diikutin dengan kerutan pada jidatnya membuatkan Nadarga tersenyum lebar ke arahnya.

Wait, what the actual fuck is happening?

“Mau main-main sama gua juga?“ Soal Nadarga lalu menaikkan sebelah alisnya.

“Maksud lo?”

“Tantangan”

Jendral mulai tak nyaman dengan duduknya. Sedaya upaya dia menormalkan degupan jantungnya yang semakin menggila. Mungkin raut wajahnya mulai kelihatan seperti kehilangan darah sekarang.

“Tantangan?” Jendral menaikkan kedua sudut ujung bibirnya. Dia. Tak. Mahu. Keliatan. Sedang. Cemas.

“I always want to win. Gua ambis, gua ga bakalan pernah mau ngalah. Tapi tergantung apa imbalannya dulu”

“Imbalannya, if you win, you can do anything and ask anything you want from me asal ga di luar nalar kayak beliin Eiffel tower atau Lamborghini”

“Kalau gua kalah?”

“I will make you like my own fucking dog. Lo harus nerima apapun konsekuensinya even if I ask you to walk fully naked in my house”

Jendral tertawa mendengar itu barusan.

“Just admit it that you’re gay”

Nadarga mengangguk pelan, tanpa harus berpikir kedua kalinya.

“After you kissed me last time. I kept questioning my own sexuality so many times. Wanna have a last kiss before I tell you the dare?”

Jendral menolak.

Jendral? Menolak?

Ga mungkin.

Dia berdiri, dia berjalan mendekati Nadarga kemudian membungkukkan tubuhnya sedikit. Nadarga pula mengadahkan kepalanya ke atas, melihat bagaimana yang lebih muda mulai mengikis jarak wajah mereka berdua.

“How did you know about the dare?” He whispered slowly, their lips almost touching. Nadarga just smiled widely while looking at Jendral’s pretty lips.

“Go ask your stupid friends. Kenapa harus koar-koar di twitter? Kayak gua ga punya twitter aja” Nadarga mendekatkan wajahnya, menempel bibirnya kemudian menelusup mulut Jendral ketika pemuda itu membuka mulutnya memberi akses.

Jendral membawa tangannya menahan belakang tengkuk Nadarga supaya memperdalam ciuman mereka. Kedua mata mereka tertutup rapat, sama sama saling menikmati cumbuan.

Kedua tangan Nadarga naik menyentuh kedua sisi pinggang Jendral. Kedua matanya terbuka sedikit, merasa kaget kerana baru sadar bahwa pinggang pemuda itu ternyata seramping dan sekecil ini. Bahkan kedua ibu jari nya hampir bersentuhan.

Masing-masing melepaskan tautan setelah itu. Jendral tampak manis dengan bibirnya yang berkilat. Nadarga menjilati bibir bawahnya sendiri lalu tertawa pelan apabila Jendral mengesat bibirnya sendiri.

“Dare nya apa? Don’t tell me that you’re almost forgetting about it after kissing with me.” Satu hal yang bikin Nadarga semakin tertarik pada adik tingkatnya ini. Narsis, percaya diri, over-confident nya bahkan membuatnya kelihatan lebih menggoda.

“Be my boyfriend for two weeks. Kalau lo beneran suka sama gua, berarti lo kalah. Dan kalau lo kalah, you can’t run away from me and act like nothing happened between us. Inget konsekuensi yang harus lo terima”

“Be your dog?”

“Yes”

“Forever?”

“Yes. Forever.

Jendral tersenyum sinis, dia memegang rahang Nadarga. Melihat lebih jelas betapa sempurna terpahatnya wajah itu. God’s favourite, huh?

“And what will happen if you’re the one who falls in love with me first?”

“It’s up to you”

Jendral mengangguk, “Tapi kalau gua beneran suka sama lo sekalipun. Gua jago akting. Gua bisa pura-pura ga suka sama lo”

“Same goes to me”

“Jadi, kalau kita ga jatuh cinta selama dua minggu?”

“Just act like nothing happens”

Jendral terkekeh, “Ga seru”

“Terus?”

“Kita ngewe. Sex without involving any feelings sounds great, right?” Tanpa butuh menunggu lama Jendral melontarkan kata-kata itu barusan.

Nadarga terdiam sebentar mendengarnya. Kemudian, perlahan-lahan dia mengangguk.

“Sure”