#Unit D7
Setelah selesai memposting tweet terakhir barusan, Jendral langsung memasukkan ponsel ke dalam kantung celana jeans yang dipakenya. Nadarga yang sedang duduk langsung berdiri, kedua sudut bibirnya menaik membentuk sebuah senyuman nipis.
“Gampang ga, nyari nya?” Pertanyaan pertama yang diajukan Nadarga padanya. Jendral pula langsung membuka hoodie yang membaluti tubuhnya sedari tadi, membiarkan hanya kaos hitam yang membaluti atasannya. “Gampang, cuman bikin stress gara-gara parkiran sama lobi nya kejauhan. Capek banget gua.” Jawabnya membuatkan Nadarga tertawa pelan.
“Ya udah, ayo naik. Lo udah sarapan apa belum?” Kedua kaki nya melangkah menuju ke arah lift, sebelah tangannya mengeluarkan kartu akses bewarna putih di dalem kantung jaket denim nya. Manakala Jendral hanya mengikuti langkah lelaki itu sambil kedua netranya melihat sekeliling lobi tersebut.
“Belum, orang gua aja bangun, siap-siap langsung ke sini”. Nadarga mengangguk, “Sarapan di rumah gua aja sekalian. Sambil nungguin gua kelar zoom. Oh iya, maaf ya, soalnya gua batalin janjiannya pas menit terakhir.” Nadarga memencet tombol lift nomer 12. Kartu akses nya didekatkan pada sensor lalu lift itu bergerak naik ke atas.
“Santai aja sama gua. Lo juga kenapa sih hawanya panas gini enteng banget make ginian?” Akhirnya pertanyaan pertama ketika bertemu dengan Nadarga barusan akhirnya bebas juga melewati belahan bibirnya. Nadarga terdiam sebentar, kemudian dia menunduk, lalu tertawa lepas.
“Aneh ya?”
“Ya, aneh banget.”
Pintu lift akhirnya terbuka setelah mereka nyampe di lantai 12. Sisa tawa pemuda bersurai pirang itu masih belum habis walaupun mereka sudah separuh jalan menuju ke unitnya.
Jendral pula tak sadar bibirnya juga ikut tersenyum. Dia tidak menyangka, bahwa Nadarga memang secantik, seganteng ini jika sedang tertawa renyah. Apalagi karena candaannya barusan. Akhirnya mereka berdua berhenti di hadapan unit dipaling hujung.
“Ayo, masuk. Malah bengong”