kaiserwriting

#UNIT D7#

Setelah selesai memposting tweet terakhir barusan, Jendral langsung memasukkan ponsel ke dalam kantung celana jeans yang dipakenya. Nadarga yang sedang duduk langsung berdiri, kedua sudut bibirnya menaik membentuk sebuah senyuman nipis.

“Gampang ga, nyari nya?” Pertanyaan pertama yang diajukan Nadarga padanya. Jendral pula langsung membuka hoodie yang membaluti tubuhnya sedari tadi, membiarkan hanya kaos hitam yang membaluti atasannya. “Gampang, cuman bikin stress gara-gara parkiran sama lobi nya kejauhan. Capek banget gua.” Jawabnya membuatkan Nadarga tertawa pelan.

“Ya udah, ayo naik. Lo udah sarapan apa belum?” Kedua kaki nya melangkah menuju ke arah lift, sebelah tangannya mengeluarkan kartu akses bewarna putih di dalem kantung jaket denim nya. Manakala Jendral hanya mengikuti langkah lelaki itu sambil kedua netranya melihat sekeliling lobi tersebut.

“Belum, orang gua aja bangun, siap-siap langsung ke sini”. Nadarga mengangguk, “Sarapan di rumah gua aja sekalian. Sambil nungguin gua kelar zoom. Oh iya, maaf ya, soalnya gua batalin janjiannya pas menit terakhir.” Nadarga memencet tombol lift nomer 12. Kartu akses nya didekatkan pada sensor lalu lift itu bergerak naik ke atas.

“Santai aja sama gua. Lo juga kenapa sih hawanya panas gini enteng banget make ginian?” Akhirnya pertanyaan pertama ketika bertemu dengan Nadarga barusan akhirnya bebas juga melewati belahan bibirnya. Nadarga terdiam sebentar, kemudian dia menunduk, lalu tertawa lepas.

“Aneh ya?”

“Ya, aneh banget.”

Pintu lift akhirnya terbuka setelah mereka nyampe di lantai 12. Sisa tawa pemuda bersurai pirang itu masih belum habis walaupun mereka sudah separuh jalan menuju ke unitnya.

Jendral pula tak sadar bibirnya juga ikut tersenyum. Dia tidak menyangka, bahwa Nadarga memang secantik, seganteng ini jika sedang tertawa renyah. Apalagi karena candaannya barusan. Akhirnya mereka berdua berhenti di hadapan unit dipaling hujung.

“Ayo, masuk. Malah bengong”

Setelah selesai memposting tweet terakhir barusan, Jendral langsung memasukkan ponsel ke dalam kantung celana jeans yang dipakenya. Nadarga yang sedang duduk langsung berdiri, kedua sudut bibirnya menaik membentuk sebuah senyuman nipis.

“Gampang ga, nyari nya?” Pertanyaan pertama yang diajukan Nadarga padanya. Jendral pula langsung membuka hoodie yang membaluti tubuhnya sedari tadi, membiarkan hanya kaos hitam yang membaluti atasannya. “Gampang, cuman bikin stress gara-gara parkiran sama lobi nya kejauhan. Capek banget gua.” Jawabnya membuatkan Nadarga tertawa pelan.

“Ya udah, ayo naik. Lo udah sarapan apa belum?” Kedua kaki nya melangkah menuju ke arah lift, sebelah tangannya mengeluarkan kartu akses bewarna putih di dalem kantung jaket denim nya. Manakala Jendral hanya mengikuti langkah lelaki itu sambil kedua netranya melihat sekeliling lobi tersebut.

“Belum, orang gua aja bangun, siap-siap langsung ke sini”. Nadarga mengangguk, “Sarapan di rumah gua aja sekalian. Sambil nungguin gua kelar zoom. Oh iya, maaf ya, soalnya gua batalin janjiannya pas menit terakhir.” Nadarga memencet tombol lift nomer 12. Kartu akses nya didekatkan pada sensor lalu lift itu bergerak naik ke atas.

“Santai aja sama gua. Lo juga kenapa sih hawanya panas gini enteng banget make ginian?” Akhirnya pertanyaan pertama ketika bertemu dengan Nadarga barusan akhirnya bebas juga melewati belahan bibirnya. Nadarga terdiam sebentar, kemudian dia menunduk, lalu tertawa lepas.

“Aneh ya?”

“Ya, aneh banget.”

Pintu lift akhirnya terbuka setelah mereka nyampe di lantai 12. Sisa tawa pemuda bersurai pirang itu masih belum habis walaupun mereka sudah separuh jalan menuju ke unitnya.

Jendral pula tak sadar bibirnya juga ikut tersenyum. Dia tidak menyangka, bahwa Nadarga memang secantik, seganteng ini jika sedang tertawa renyah. Apalagi karena candaannya barusan. Akhirnya mereka berdua berhenti di hadapan unit dipaling hujung.

“Ayo, masuk. Malah bengong”

##UNIT D7

Setelah selesai memposting tweet terakhir barusan, Jendral langsung memasukkan ponsel ke dalam kantung celana jeans yang dipakenya. Nadarga yang sedang duduk langsung berdiri, kedua sudut bibirnya menaik membentuk sebuah senyuman nipis.

“Gampang ga, nyari nya?” Pertanyaan pertama yang diajukan Nadarga padanya. Jendral pula langsung membuka hoodie yang membaluti tubuhnya sedari tadi, membiarkan hanya kaos hitam yang membaluti atasannya. “Gampang, cuman bikin stress gara-gara parkiran sama lobi nya kejauhan. Capek banget gua.” Jawabnya membuatkan Nadarga tertawa pelan.

“Ya udah, ayo naik. Lo udah sarapan apa belum?” Kedua kaki nya melangkah menuju ke arah lift, sebelah tangannya mengeluarkan kartu akses bewarna putih di dalem kantung jaket denim nya. Manakala Jendral hanya mengikuti langkah lelaki itu sambil kedua netranya melihat sekeliling lobi tersebut.

“Belum, orang gua aja bangun, siap-siap langsung ke sini”. Nadarga mengangguk, “Sarapan di rumah gua aja sekalian. Sambil nungguin gua kelar zoom. Oh iya, maaf ya, soalnya gua batalin janjiannya pas menit terakhir.” Nadarga memencet tombol lift nomer 12. Kartu akses nya didekatkan pada sensor lalu lift itu bergerak naik ke atas.

“Santai aja sama gua. Lo juga kenapa sih hawanya panas gini enteng banget make ginian?” Akhirnya pertanyaan pertama ketika bertemu dengan Nadarga barusan akhirnya bebas juga melewati belahan bibirnya. Nadarga terdiam sebentar, kemudian dia menunduk, lalu tertawa lepas.

“Aneh ya?”

“Ya, aneh banget.”

Pintu lift akhirnya terbuka setelah mereka nyampe di lantai 12. Sisa tawa pemuda bersurai pirang itu masih belum habis walaupun mereka sudah separuh jalan menuju ke unitnya.

Jendral pula tak sadar bibirnya juga ikut tersenyum. Dia tidak menyangka, bahwa Nadarga memang secantik, seganteng ini jika sedang tertawa renyah. Apalagi karena candaannya barusan. Akhirnya mereka berdua berhenti di hadapan unit dipaling hujung.

“Ayo, masuk. Malah bengong”

#UNIT #D7

Setelah selesai memposting tweet terakhir barusan, Jendral langsung memasukkan ponsel ke dalam kantung celana jeans yang dipakenya. Nadarga yang sedang duduk langsung berdiri, kedua sudut bibirnya menaik membentuk sebuah senyuman nipis.

“Gampang ga, nyari nya?” Pertanyaan pertama yang diajukan Nadarga padanya. Jendral pula langsung membuka hoodie yang membaluti tubuhnya sedari tadi, membiarkan hanya kaos hitam yang membaluti atasannya. “Gampang, cuman bikin stress gara-gara parkiran sama lobi nya kejauhan. Capek banget gua.” Jawabnya membuatkan Nadarga tertawa pelan.

“Ya udah, ayo naik. Lo udah sarapan apa belum?” Kedua kaki nya melangkah menuju ke arah lift, sebelah tangannya mengeluarkan kartu akses bewarna putih di dalem kantung jaket denim nya. Manakala Jendral hanya mengikuti langkah lelaki itu sambil kedua netranya melihat sekeliling lobi tersebut.

“Belum, orang gua aja bangun, siap-siap langsung ke sini”. Nadarga mengangguk, “Sarapan di rumah gua aja sekalian. Sambil nungguin gua kelar zoom. Oh iya, maaf ya, soalnya gua batalin janjiannya pas menit terakhir.” Nadarga memencet tombol lift nomer 12. Kartu akses nya didekatkan pada sensor lalu lift itu bergerak naik ke atas.

“Santai aja sama gua. Lo juga kenapa sih hawanya panas gini enteng banget make ginian?” Akhirnya pertanyaan pertama ketika bertemu dengan Nadarga barusan akhirnya bebas juga melewati belahan bibirnya. Nadarga terdiam sebentar, kemudian dia menunduk, lalu tertawa lepas.

“Aneh ya?”

“Ya, aneh banget.”

Pintu lift akhirnya terbuka setelah mereka nyampe di lantai 12. Sisa tawa pemuda bersurai pirang itu masih belum habis walaupun mereka sudah separuh jalan menuju ke unitnya.

Jendral pula tak sadar bibirnya juga ikut tersenyum. Dia tidak menyangka, bahwa Nadarga memang secantik, seganteng ini jika sedang tertawa renyah. Apalagi karena candaannya barusan. Akhirnya mereka berdua berhenti di hadapan unit dipaling hujung.

“Ayo, masuk. Malah bengong”

#Unit D7

Setelah selesai memposting tweet terakhir barusan, Jendral langsung memasukkan ponsel ke dalam kantung celana jeans yang dipakenya. Nadarga yang sedang duduk langsung berdiri, kedua sudut bibirnya menaik membentuk sebuah senyuman nipis.

“Gampang ga, nyari nya?” Pertanyaan pertama yang diajukan Nadarga padanya. Jendral pula langsung membuka hoodie yang membaluti tubuhnya sedari tadi, membiarkan hanya kaos hitam yang membaluti atasannya. “Gampang, cuman bikin stress gara-gara parkiran sama lobi nya kejauhan. Capek banget gua.” Jawabnya membuatkan Nadarga tertawa pelan.

“Ya udah, ayo naik. Lo udah sarapan apa belum?” Kedua kaki nya melangkah menuju ke arah lift, sebelah tangannya mengeluarkan kartu akses bewarna putih di dalem kantung jaket denim nya. Manakala Jendral hanya mengikuti langkah lelaki itu sambil kedua netranya melihat sekeliling lobi tersebut.

“Belum, orang gua aja bangun, siap-siap langsung ke sini”. Nadarga mengangguk, “Sarapan di rumah gua aja sekalian. Sambil nungguin gua kelar zoom. Oh iya, maaf ya, soalnya gua batalin janjiannya pas menit terakhir.” Nadarga memencet tombol lift nomer 12. Kartu akses nya didekatkan pada sensor lalu lift itu bergerak naik ke atas.

“Santai aja sama gua. Lo juga kenapa sih hawanya panas gini enteng banget make ginian?” Akhirnya pertanyaan pertama ketika bertemu dengan Nadarga barusan akhirnya bebas juga melewati belahan bibirnya. Nadarga terdiam sebentar, kemudian dia menunduk, lalu tertawa lepas.

“Aneh ya?”

“Ya, aneh banget.”

Pintu lift akhirnya terbuka setelah mereka nyampe di lantai 12. Sisa tawa pemuda bersurai pirang itu masih belum habis walaupun mereka sudah separuh jalan menuju ke unitnya.

Jendral pula tak sadar bibirnya juga ikut tersenyum. Dia tidak menyangka, bahwa Nadarga memang secantik, seganteng ini jika sedang tertawa renyah. Apalagi karena candaannya barusan. Akhirnya mereka berdua berhenti di hadapan unit dipaling hujung.

“Ayo, masuk. Malah bengong”

Hari ini, genap dua minggu mereka tidak bertegur sapa. Genap dua minggu juga rumah ini sepi seperti tidak berpenghuni. Cuman satu kali mereka berpapasan di kampus, itu juga keduanya harus melarikan pandangan ketika sepasang netra mereka bertaut.

Jendral menghela napasnya berat. Surai tebalnya diraup kebelakang dengan jari-jari tangannya. Padahal yang ngambekan duluan siapa sih? Kenapa malah Nadarga yang tak kunjung menunjukkan entitas nya selama dua minggu disini?

Padahal ini apartment miliknya.

Yah.. gimanapun Nadarga juga bisa egois. Jendral benar-benar menyesali sifatnya yang bisa terbilang kekanak-kanakan. Tapi masalahnya, perang dingin antara mereka bukan seratus persen adalah dari dirinya. Benar, dia tidak sepenuhnya bersalah atas apa yang berlaku.

Nadarga juga tak punya waktu buatnya. Dia dijadiin pilihan terakhir, last choice di dalam siklus sehari-harinya. Memangnya mau banget ya, punya pacar tapi berasa ga punya?

“Paginya gua tau lo kuliah dan jelas lah siapa yang lagi kuliah mau diganggu? Pulangnya ngejar deadline tugasan, belajar sampai malem. Sehabis belajar juga lo langsung mau sama temen-temen. Pulangnya nanti pasti capek dan langsung tidur. Iya sih.. itu juga kalau lo langsung pulang. Belum lagi lo malah numpang tidur di kosan temen lo. Terus gua nya gimana? Waktu buat gua nya kapan? Bahkan weekend juga lo jarang di rumah. Capek banget anjing. Mending ga usah punya pacar kalau gini!”

Jendral masih ingat bagaimana kedua pasang netra mereka bertatapan lama. Adrenalin tubuhnya yang memacu, dan Nadarga yang memandang dirinya dari atas sampai ke bawah sebelum kata-kata sialan meluncur keluar dari belahan bibirnya.

“Know your own limit. Lo ga punya hak buat ngekang gua. Memangnya lo pernah denger omongan gua selama ini? Waktu gua nyuruh minta maaf sama Marka waktu itu, lo minta maaf ga?”

Lelaki berkelahiran Agustus itu berjalan maju beberapa langkah dan semakin mempersempit jarak di antara keduanya. Jendral terpaksa mengundur sedikit ketika Nadarga mendekatkan wajah kearahnya.

“Peraturannya gampang. You obey the rules, and I will do whatever you ask me to do. Impas, kan?” Bisiknya pelan, hampir sahaja Nadarga jatuh dalam pandangan teduh kekasihnya itu. Dia tak mahu terlalu memanjakannya. Akhirnya Nadarga menjauh, kemudian memakai jaketnya kembali.

“Mau pergi ke mana?

“Bukan urusan lo”

Jendral memejamkan kedua matanya sebentar. Ponselnya diambil, nomer seseorang yang menghantui pikirannya ditelpon juga akhirnya. Egonya runtuh, dan sialnya cuman Nadarga yang bisa membuatkan pikirannya bercelaru.

Tak ambil waktu yang lama, Nadarga menjawab panggilan itu membuatkan jantungnya berdetak tak karuan. Kalau tau gampang kayak gini menghubungi lelaki itu, mending dari waktu itu dia nelpon Nadarga duluan.

“Hm?”

Entah kenapa lidahnya menjadi kelu. Hujung bajunya diremat kuat, bawah bibirnya digigit. Dia terlalu grogi, sehingga Jendral bisa mendengar degupan jantungnya sendiri sekarang. Hujung jari kaki dan tangannya mulai terasa dingin.

“Speak”

Sialan, Nadarga.

“Dimana?”

Bersusah payah Jendral mengatur napasnya. Intonasi suaranya dikawal sebaik mungkin agar terdengar lebih santai. Dia tak mahu Nadarga menebak perilaku nya yang sedang gelisah sekarang.

“Di depan rumah”

Hah..

Setelah mendengar itu, suara seseorang memencet pin akses pintu didepan membuatkan kepalanya langsung dipusingkan ke arah sana. Kedua matanya membulat apabila melihat kapita yang dirinduinya masuk ke dalam dengan keadaan yang sedikit berantakan. Mata mereka bertemu seketika, kantung mata lelaki itu jelas kelihatan. Padahal Nadarga itu adalah orang yang sangat mementingkan wajahnya.

Talian dimatikan.

Kedua netranya hanya melihat bagaimana entitas itu masuk ke kamar tanpa mempedulikan kehadirannya disitu. Jendral berdiri, kepalanya yang tidak merasa gatal di garu perlahan karena merasa canggung setengah mati.

Dia berjalan menuju masuk ke dalam kamar. Kelibat Nadarga tiada disitu. Dia menolak sedikit pintu kamar mandi yang tertutup itu, Nadarga berada di dalam tentunya. Tetapi, pintunya tidak dikunci sama sekali.

Jendral mendekat, mengintip sedikit dari celah pintu dan mendapati bahwa Nadarga sedang berdiri di hadapan cermin wastafel dengan keadaan bertelanjang dada. Pemuda Leo itu sedang memakai krim cukur pada bahagian bawah hidung sampai ke dagunya.

Tanpa berfikir panjang, Jendral masuk ke dalam. Dia berdiri di samping Nadarga dan melihat wajah lelaki di sampingnya itu lewat pantulan cermin tersebut. “Jangan bilang lo pulang buat nyukur doang?” Ujarnya pelan dan Nadarga masih tidak menjawab.

Jendral mulai merasa frustasi. Kehadirannya benar benar tak dianggap. Dia bergeser pelan supaya bisa berhadapan dengan Nadarga. Lelaki berkelahiran Agustus itu menghentikan aktivitasnya apabila yang lebih muda malah berdiri di hadapannya. Dia menaikkan sebelah alisnya karena tindakan pemuda Taurus itu sekarang.

Pisau cukur yang ada pada tangan Nadarga diambil. Pemuda Leo itu terpaksa mengundur kebelakang ketika Jendral mendudukkan dirinya pada samping wastafel. Nadarga menatap lurus ke arahnya, manakala Jendral menarik pelan lengan Nadarga agar lebih mendekat dengannya lagi.

Nadarga tidak memprotes sama sekali. Tubuhnya mendekat apabila Jendral melebarkan kedua pahanya. Nadarga sengaja mengikis jarak wajahnya dan kekasihnya ini. Mungkin sahaja mereka bisa saling mendengar napas sesama sendiri sekarang.

Kedua tangan Nadarga bergerak pelan, diletakkan pada samping pinggul Jendral agar dapat memiringkan tubuhnya sedikit supaya mendapat posisi lebih nyaman. Jendral yang sadar dengan posisi Nadarga itu terpaksa memalingkan wajahnya ke samping seketika, kedua telinga nya mulai berganti warna merah muda.

“Shit.”

Umpat Jendral di dalam hatinya. Krim pencukur yang masih tertempel pada wajah Nadarga di lihat semula. Sedaya upaya Jendral melarikan pandangannya. Dia tak mahu bertemu mata dengan lelaki itu, dan jelas Nadarga memandang lurus ke arahnya sedari tadi.

Tangan kirinya naik menyentuh dagu pemuda Leo itu. Tak bisa dipungkiri jika dia merasa kagum dengan pahatan dewa dihadapannya sekarang. Bentukan rahangnya beneran kecil, wajahnya begitu manis dan tampan jika dilihat dari jauh.

Namun jika dengan jarak sedekat ini, ditambah pula lelaki itu tidak tersenyum atau berbicara layaknya seperti manusia tidak bernyawa membuatkan dirinya juga bisa merasa takut. Pantesan dia sering tersenyum, wajahnya beneran menyeramkan jika dibiarkan begini.

Tangannya bergerak pelan menggunakan pisau cukur itu dengan berhati-hati. Jendral terpaksa menunduk sedikit ketika membersihkan bahagian bawah dagu lelaki itu. Mereka tidak mengobrol sama sekali, Jendral tau Nadarga pasti tak mau berbicara dengannya lagi.

Sehingga akhirnya wajah Nadarga tiada lagi sisa krim pencukur pada wajahnya. Nadarga bergerak menjauh dan membersihkan wajahnya dengan air. Jendral hanya melihat bagaimana lelaki itu menggunakan beberapa produk pencuci pada wajahnya.

Memangnya dia barusan pulang dari mana?

“Lo dari mana?”

Tiada jawaban. Nadarga mengambil handuk kecil yang terlipat kemas di sampingnya setelah selesai membersihkan wajahnya. Jendral mulai menggaru lehernya yang tidak merasa gatal sama sekali. Yang dihadapannya ini sebenarnya manusia apa setan, sih? Ditanyain diem mulu.

“Keluar, gua mau mandi”

Dingin suaranya mengusir keberadaannya disitu. Jendral malah menggerakkan kedua kakinya secara berlawanan arah, bibir dalamnya digigit pelan. Dia tak akan pergi selagi Nadarga tak mahu berbicara dengannya.

“Jawab dulu”

Nadarga menghela napasnya kasar. Dia membalas tatapan yang lebih muda padanya. Jendral menarik lengan Nadarga supaya kekasihnya itu dapat berdiri pada posisi awal dimana dia mencukur kumisnya barusan.

“Kantung mata lo parah banget. Dikejar sama skripsi, ya?” Jendral mulai membuka pertanyaan kembali. “Nadarga?” Kedua netranya berpinar mengharapkan jawaban daripada Nadarga apabila lelaki itu hanya memandang kosong ke arahnya.

“Memangnya kita udah bisa saling ngobrol santai kayak gini? Gua belum denger lo minta maaf.”

Kata lelaki itu mutlak. Jendral mengalungkan kedua lengannya pada leher Nadarga, sengaja semakin mempersempit jarak di antara mereka berdua. Kedua netranya menatap lekat wajah Nadarga yang kelihatan kusut.

“Gua minta maaf..”

Lirih suaranya terdengar. Wajahnya mulai memerah kembali. Malu nya minta ampun. Mana ada di dalam sejarah seorang Jendral Majapatih minta maaf duluan? Lihat, seberapa hebatnya seorang Nadarga dapat membuatkan si keras kepala ini akhirnya menunduk.

“Use your attitude.”

Ujar Nadarga lagi sengaja ingin bermain tarik ulur pada lelaki temperamen buruk dihadapannya itu. Namun, Jendral tak membantah seperti biasanya. Dia bahkan lebih mendekatkan tubuhnya, sehingga Nadarga dapat merasakan kedua alat kelamin mereka saling bergesekan di balik celana mereka yang masih terbalut.

“Aku minta maaf, kak..”

Perlahan-lahan, sudut bibir kanan Nadarga menaik membentuk sebuah senyuman. Dia menunduk sebentar, suara kekehan terdengar jelas daripada belahan bibirnya. Wajah Jendral dipandang sekali lagi. Kedua matanya membulat, manik hitamnya berkilat, dan kedua keningnya menekuk.

Ahh.. sialan.

“Apa, Sayang? Bisa ga, gua dengerin lagi apa yang lo omongin barusan?” Kata Nadarga lalu meletakkan kedua tangannya pada samping pinggul Jendral kembali. Senyumannya merekah, kedua matanya mengecil membuatkan Jendral semakin tak karuan. Dia terpaksa melarikan pandangannya kerana jantungnya mungkin akan meledak kapanpun sekarang.

“A-aku..”

“Kalau minta maaf itu, liatin mata lawan bicaranya, Sayang.”

Jendral memusingkan wajahnya melihat ke arah Nadarga kembali. Nadarga sempat tertawa pelan melihat keseluruhan wajah Jendral yang sudah seperti tomat karena saking merahnya. Dia juga sempat melihat wajahnya pada pantulan cermin di belakang Jendral, kedua telinga juga ikutan berganti warna karena tingkah kekasihnya ini.

Lucu, ini terlalu lucu. He can’t deny it.

“Aku minta maaf, kak”

“Mention my name on it, Pretty.”

Dulu, waktu pertama kali dia ketemu dengan seorang Nadarga. Seringkali kata cantik tak lepas untuk memuji visual lelaki di hadapannya ini. Tapi sekarang lihatlah, mendengar pujian kata ‘cantik’ dari Nadarga membuatkan dia tak senang duduk. Dirinya pula yang jadi salah tingkah.

“Aku minta maaf, kak Nadarga.”

Ucapnya lagi tanpa gugup. Pandangan mereka bertaut lama. Nadarga mendekatkan wajahnya, dia memusingkan sedikit kepalanya ke samping, sengaja menghentikan pergerakan wajahnya ketika Jendral juga turut memberi respons dengan mendekatkan wajahnya juga.

“Apologise accepted”

Nadarga mendekat, mencium bibir ranum itu sedikit beracakan, memasukkan lidah dan bermain dengan seisi mulut pemuda Taurus itu sembarangan membuatkan Jendral menepuk punggung Nadarga sedikit kuat ketika napasnya mulai habis.

Nadarga is acting a little strange tonight.

“Unleast.. lo bikin mood gua baik lagi, Jen.”

Sambung Nadarga lagi lalu menjilati bibir bawahnya sendiri. Pemuda Taurus masih mengatur napasnya. Sepasang netranya melihat ke arah Nadarga yang menjilati bibir bawahnya sensual. Belum sempat napasnya kembali normal, Nadarga mendekat dan menyesap bibirnya lagi. Kedua bahu lelaki itu diremat kuat.

Nadarga's mood was a mess. He knew that.

Jendral dapat menebak itu melalui ciumannya —terlalu menuntut, berantakan, dan sedikit memaksa— ketika ciuman mereka terputus, Jendral menatap sepasang netra itu bersusah payah. Entah ini keadaan yang baik atau buruk jika harus berhadapan dengan seorang Nadarga yang moodnya sedang berantakan.

But he looks sexier when he’s mad.

Tatapan mereka bertaut. Jendral seakan-akan memandang pantulan bayangan nafsunya sendiri ketika bertatapan dengan manik kelam itu. Bagaimana Jendral menginginkan Nadarga, sama persis seperti Nadarga menginginkan dirinya sekarang.

“Hear me, Pretty.”

Nadarga berbicara pelan ketika suaranya mulai serak. Jendral mengaduh sakit apabila rambutnya ditarik kuat membuatkan kepalanya terpaksa tengadah ke atas. Matanya terpejam erat, tangan Nadarga yang menggenggam rambutnya dipegang.

“I’m fucking pissed right now for some reasons, and you’re one of them.”

Tangan sebelahnya memegang paha kanan Jendral. Dia menggenggam kuat paha lelaki itu sehingga pemuda April itu menjerit pelan karena merasa sakit bukan main, Nadarga mencengkam di bahagian paha dalamnya.

Benar benar hampir dibahagian selangkangan.

“Gua mau hancurin lo, bikin lo berantakan malam ini. Please, choose a safeword, gua yakin gua ga bakalan berhenti selagi gua ga merasa puas.”

Jendral memejamkan kedua matanya ketika Nadarga mendekat mencumbui lehernya. Mulutnya terbuka sedikit karena merasa geli, dirinya juga tak munafik jika merindui sentuhan dari lelaki ini. Tangan kanannya naik meremat surai lebat Nadarga.

“I don’t need a fucking safeword. Hancurin aja kalau beneran lo mau ngehancurin gua. Bikin gua nangis, bikin gua berantakan sesuai kemahuan lo. I’m all yours.”

Ujarnya pelan ketika genggaman tangan Nadarga pada rambutnya perlahan-lahan dilepas. Kedua mata mereka bertaut seketika, sebelum Nadarga mendekat mencumbui bibir itu dengan gerakan menuntut. Ciuman dilepaskan, Jendral benar benar terlihat cantik. Kekasihnya yang berantakan karena ulahnya memang selalu terlihat indah.

“Jangan pernah narik kata-kata lo barusan”

“Ga, gua ga bakalan narik lagi.”

Tanpa berfikir panjang, Nadarga langsung menolak tubuh kekasihnya itu agar punggungnya benar benar bersandar pada dinding. Bunyi tabrakan kepala Jendral dan cermin dibelakang tidak dihiraukan, kedua kaki pemuda Taurus itu refleks diangkat apabila Nadarga menarik celana ripped-jeans sekalian celana dalamnya dengan gerakan pantas.

—They were both consumed by lust and desired to destroy each other.

“I miss you” Bisik pemuda Leo itu disela dengan ciumannya yang berantakan, menuntut, dan dalam. Jendral membawa kedua tangannya memegang kedua sisi kepala Nadarga, sepasang netranya terpejam erat, kepalanya jelangak ke atas.

“Akhh!”

Jendral menjerit pelan apabila Nadarga menariknya supaya lebih mendekat dengan pinggulnya. Kedua kakinya benar-benar di antara pinggang kekasihnya sekarang. Lalu, Nadarga menarik kedua kakinya lagi agar lebih mendekat sehingga penisnya benar benar bersentuhan dengan penis Jendral yang sudah tidak dibalut dengan apapun, sedangkan dirinya masih memakai celana jeans.

Jendral terpaksa menggunakan kedua siku nya untuk menompa tubuhnya sendiri agar punggungnya tidak menyentuh pinggiran wastafel itu. Kedua mata sipitnya terpejam, bibir bawahnya digigit kuat apabila Nadarga memajukan pinggulnya, menggesekkan penis Jendral dengan penisnya yang masih terbalut dengan celana itu.

“Hahhh— lo ngapain!“

Pemuda Taurus itu menyentuh sebelah tangan Nadarga setelah kedua sisi pinggangnya dipegang erat. Nadarga memajukan pinggulnya lagi. Kepala Jendral langsung jatuh mendongak, mulutnya terbuka, wajahnya mulai bersemu merah.

“Baru diginiin loh. Belum lagi gua rojokin lubang perek lo sampe lower, Jen”

Kedua kakinya dipaksa melebar, Nadarga menyentuh pinggiran lubang anal lelaki itu dengan sengaja. Tubuh Jendral langsung meliuk pelan, dia meremat kuat lengan Nadarga. Sepasang manik mereka bertaut seketika sebelum Jendral membuka mulutnya bersusah payah.

“B-bed please? I’m begging you, Na.” Jendral menatap wajah itu penuh berharap. Making sex in this small space just makes him uncomfortable.

Pemuda Leo itu mengangguk pelan, menaikkan kedua kaki kekasihnya itu agar sejajar dengan lehernya. Dia menunduk sedikit, menciumin paha itu perlahan, menyesap dan meninggalkan kesan merah di sana.

“Yea sure, tapi habis satu ronde main disini.”

“T-tapi”

“I don't think you have the right to speak here.”

Jendral langsung bungkam. Sebelah lengannya masih sigap menompa tubuhnya sedari tadi walaupun lengannya sudah mulai terasa sakit. Sebelah tangannya yang lain meremat surai Nadarga apabila ciuman lelaki itu semakin naik ke atas,

Ke atas,

Terus ke atas sehingga Jendral harus melebarkan kedua kakinya lebih buat Nadarga. He's too desperate— all he needs now is this man to take control of his entire body. He wants to be fucked real bad.

“Udah lama banget ga liatin tubuh lacur lo telanjang kayak gini didepan gua.“

Nadarga mengujar pelan lalu mendekatkan wajahnya pada lubang anal kekasihnya. Pemuda Taurus itu langsung memejamkan kedua matanya apabila sesuatu yang dingin menjilati lubang senggamanya.

“Ahh, oh, God!” Surai tebal Nadarga diremat kuat. Dadanya membusung apabila lidah Nadarga masuk ke dalam lubangnya, memasukkan dan mengeluarkan beberapa kali membuatkan tubuhnya bergerak gelisah, kedua matanya terpejam erat sekali lagi.

“Fuck!” Hampir sahaja kepala pemuda Agustus itu terjepit jika dia tidak lebih dahulu menahan kedua paha yang lebih muda dengan kedua tangannya. Lidahnya semakin gencar bermain pada lubang kekasihnya, menjilati, memasukkan dan mengeluarkan semula dengan gerakan pantas.

Tubuhnya menegang, terlalu geli dan nikmat. Sudah dua minggu dia tidak disentuh, tidak diberi atensi oleh laki-laki itu membuatkan Jendral begitu haus padanya. Nafasnya diatur ketika Nadarga menjauhkan wajah dari lubang senggamanya.

Nadarga mengambil sesuatu di nakas yang tergantung di samping cermin. Botol lubrikan yang memang tempatnya disitu diambil, lalu dipencet isi dalamnya dengan keadaan tangan yang sedikit menggeletar karena kepalang nafsu, tapi Nadarga masih waras untuk melakukan persiapan sebelum melakukan seks dengan kekasihnya itu.

Kepala Jendral mengadah ke atas ketika satu jari lolos masuk ke dalam lubangnya. Rasanya lebih dingin daripada hujung lidah Nadarga barusan. Mulutnya ternganga, manik hitamnya memutar ke atas apabila jari sialan itu langsung menekan titik manisnya di dalam.

Digit jari ditambah, suara becek jari Nadarga yang keluar masuk ke dalam lubang anal Jendral memenuhi ruangan. Nadarga menggigit bibir bawahnya apabila melihat bahwa lubang kekasihnya itu sudah siap dimasukin oleh penisnya kapanpun.

“Lubang lo panas, becek, kayak lubang memek.”

Ujar Nadarga sambil jarinya masih gencar merojokin lubang anal pemuda itu tanpa ampun. Kedua jarinya memutar, jarinya menekuk sedikit agar lubang nya semakin merenggang. Jari ketiga dimasukkan, kali ini Jendral berteriak sedikit, kedua pahanya bergetar pelan.

Cairan pre-cum mulai menetes keluar pada hujung penisnya membuatkan suara kekehan daripada mulut Nadarga kedengaran, “Padahal belum gua sentuh, udah setegang ini aja kontol lo, Jen.” Seraya menghabiskan kata-katanya barusan, Nadarga memegang penis kekasihnya itu, cukup besar dan panjang buat ukuran seorang laki-laki di pihak bawah.

Dia menunduk kembali, memasukkan penis itu ke dalam mulutnya. Meremat penis Jendral dengan mulutnya sekaligus mengeluar masukkan jari-jarinya ke dalam lubang anal kekasihnya itu. Rematan pada surainya semakin kuat, sekujur tubuh Jendral menggeletar ketika putihnya hampir datang.

“Mnghh— hah, hah!” Napasnya diatur, dadanya naik turun bersamaan dengan spermanya yang meledak benar benar di dalam mulutnya Nadarga. Lelaki itu berdiri dengan benar kembali, jarinya dikeluarkan daripada lubang anal kekasihnya kemudian bibirnya diseka dengan lengannya sendiri.

“Come here” Tangan Nadarga diselipkan di antara kedua bawah lengan Jendral, memaksanya untuk turun dan memijak ke lantai. Lututnya masih menggeletar, dibawa tubuh kekasihnya itu agar membelakanginya. Sepasang netra Jendral membulat ketika melihat pantulan wajahnya dan juga wajah Nadarga yang di belakangnya melewati cermin itu.

Oh, god..

Suara resleting celana dibuka dari belakang. Jendral membawa tangannya memegang pipi pantatnya sendiri, menariknya kesamping apabila hujung penis Nadarga menyentuh lubang analnya dari belakang. Sebelah tangan Nadarga memeluk perutnya, Jendral pula semakin menunggingkan pantatnya.

“Bangsat, pake nungging segala” Nadarga menggeram rendah apabila hujung penisnya masuk sedikit ke dalam. “Fuck. jangan diketatin sayang. Santai aja” Nadarga mendorong penisnya walaupun benar-benar seperti tidak ada ruang lagi untuk masuk ke dalamnya.

Begitu sempit dan hangat.

Nadarga menggerakkan pinggulnya kedepan,

Memaksanya masuk, dan masuk.

Sehingga Jendral terpaksa meremat wastafel itu dengan sekuat tenaganya apabila hujung penis kekasihnya itu mentok sehingga ke penghujung. Sialnya, penis nya malah mengeluarkan pre-cum lagi.

“Oh, fuck!”

Nadarga menjerit pelan apabila penisnya diemut oleh dinding anal kekasihnya. Jendral pula sudah hampir hilang kesadaran, kedua matanya hampir terpejam jika Nadarga tak langsung menarik rambutnya untuk melihat lurus ke depan.

“How's it feel?”

“Mhh, it feels good, Na.”

Nadarga mulai menggerakkan pinggulnya dengan gerakan perlahan. Begitu teratur dan dalam. Sehingga perut Jendral berkali kali berlanggar pada pinggiran wastafel itu. Belum juga beberapa detik, Nadarga menambah tempo hujaman penisnya di dalam lubang anal kekasihnya.

Suara penyatuan kulit memenuhi ruangan. Manakala kepala Jendral terikut bergerak mengikuti setiap hentakan yang diterimanya. Manik hitamnya memutar naik ke atas, Nadarga membawa tangannya menyentuh dagu Jendral, kemudian memasukkan kedua jarinya ke dalam mulut pemuda Taurus itu.

Mencubit pelan lidahnya, dan bermain pada seisi mulut pemuda itu sehingga saliva mengalir melalui dagunya. “Enak, Sayang?” Nadarga berbisik penuh sedutif, tangan yang memegang perutnya di sebalik kaos hitam itu naik ke atas, menyentuh setiap pemukaan kulit lelaki itu dengan tangannya.

“Hahh, e-enak, genjotin lagi yang kenceng. Suka banget kontol gede lo sodokin gua sampe mentok gini, nghhh, pengen pipis jadinya!”

Kata-kata kotor langsung lolos daripada mulutnya setelah kedua jari Nadarga dikeluarkan. Mendengar itu, Nadarga membawa kedua tangannya memegang kedua sisi pinggang ramping kekasihnya.

Menahannya dengan kuat, dan hentakan pinggulnya semakin menggila. Jendral memegang salah satu tangan Nadarga yang mencengkam pinggulnya, rasanya sakit, sekaligus nikmat pada setiap tusukan yang diterimanya.

He had never experienced this before.

Rasanya kayak terbang ke langit ketujuh.

“I’m coming, Na” Ulangnya lagi apabila merasakan putihnya akan datang, hujung penisnya semakin membesar, kapan-kapan sahaja dia bisa meledakkan sperma nya jika Nadarga tetap menumbuk prostat nya tanpa ampun seperti ini.

“Together” Bisik Nadarga lalu mengentakkan penisnya lebih dalam, jari-jari kaki Jendral menekuk, bersusah payah menahan putihnya daripada meledak sebelum Nadarga keluar memenuhi lubangnya. Matanya terpejam erat, kedua kakinya semakin lemah namun sedaya upaya ditahan agar tetap berdiri.

Setelah beberapa kali hentakan, akhirnya dia merasakan cecair kental memenuhi lubang analnya. Setelah itu, sperma nya juga keluar memancut mengotori dagu, perutnya, sehingga kebanyakannya terkena pada pintu kayu dibawah wastafel itu.

Kedua kakinya menggeletar, dia jatuh melutut. Cairan mani yang penuh di dalam lubang analnya kini jatuh melalui kedua bongkahan pantatnya. Nadarga memegang sisi wastafel itu dengan tangannya. Menunduk melihat Jendral yang mengatur nafasnya bersusah payah.

“Bangun, atau lo gua seret”

“Give me a second, Na”

“Bangsat”

Kedua netra Jendral terbuka luas ketika surainya dijambak kuat, tubuhnya benar-benar terseret dibawa keluar daripada toilet itu. Tangannya memegang pergelangan tangan Nadarga dengan erat, untung sahaja dia masih memakai kaos, kalau tidak mungkin punggungnya bakalan kerasa sakit.

“Akh—!” Kepalanya terhentak pada rangka kayu ranjang tersebut. Jendral langsung mendongak ketika Nadarga berdiri dihadapannya, memperlihatkan penisnya yang mengacung pada wajahnya.

“Suck it” Tanpa membantah apapun, dia langsung membuka mulutnya, menjelirkan lidah dan memasukkan penis itu ke dalam mulutnya. Jendral membenarkan duduknya, dia duduk di atas pahanya sendiri sambil kedua tangannya memegang paha Nadarga yang masih terbalut celana jeans yang dipakenya.

Jendral mengisap penis itu dengan lihai. Lidahnya sesekali bermain, menjilati penis keras itu seperti permen lolipop. Nadarga membawa tangan kanannya meremat surai Jendral sekali lagi, menahan kepala itu sebelum memasukkan sepenuhnya ke dalam mulut Jendral sehingga menyentuh ke tenggorokannya.

Paha Nadarga diremat kuat, dia mendongak, memandang Nadarga yang menunduk memberinya seringai halus. Tenggorokannya terasa penuh, nafasnya tersekat, tubuhnya mulai bergerak gelisah ketika Nadarga tak memberi tanda ingin mengeluarkan penisnya daripada tenggorokannya.

“Tahan dulu” Guman Nadarga lalu menggeram rendah. Putihnya bakalan datang, tenggorokan Jendral begitu sempit, hangat, sepertinya dia ingin seperti ini dalam waktu yang lama. Namun melakukan itu boleh membuatkan kekasihnya ini pingsan kehabisan nafas.

Akhirnya pinggulnya dijauhkan daripada mulut Jendral setelah dua menit diam diposisi tadi.

“HAHH! HAH!” Dada Jendral naik turun mencari napas. Pemuda April itu mengesat air mata yang membasahi kedua pipinya ketika Nadarga memasukkan penisnya barusan. Dia melihat ke arah Nadarga yang mengurut kejantanannya sendiri, begitu pantas sehingga putihnya datang lagi, menyembur mengenai wajahnya dengan sengaja.

“Nah, mirip lonte sekarang”

“Iya, lontenya, Nadarga.”

Jawabnya dengan nafas yang masih tersekat. Lengannya ditarik, dipaksanya berdiri dan dihempas kuat terbaring membelakangi Nadarga pada ranjang. Sial, padahal tubuhnya lumayan gede, kenapa Nadarga bisa segampang itu menarik dan membanting tubuhnya?

Nadarga membuka bahan kain yang menutupi tubuhnya yang mulai gerah. Sehingga tak ada sehelai benang pada tubuhnya, dia merangkak mendekati Jendral yang terlantar kecapekan di ranjang.

“Hahh— pelan nghh,” Jendral menaikkan pantatnya ketika merasakan benda tumpul masuk ke dalam lubang analnya lagi. Seprai katil diremat kuat, sekali lagi hujung penis itu mentok sehingga menyentuh titik nikmatnya. Kepalanya tengadah ke atas.

Sial, ini terlalu nikmat.